Sabtu, 07 Mei 2011

kusioner

KUESIONER

Pengertian

(Dikutip dari buku Prof. Drs. Sutrisno Hadi M.A.)
Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.
Metode observasi yang baru dibicarakan merupakan cara yang paling baik untuk mengamati tingkah laku manusai yang dapat dilihat dengan mata kepala, yaitu tingkah laku dalam ruang, waktu dan keadaan tertentu. Untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan jenis ini telah dikembangkan antara lain metode kuesioner.
Metode kuesioner dalam bentuknya yang langsung keduanya mendasarkan diri pada laporan tenteng diri sendiri atau self-reports, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi.Adapun anggapan-anggapan yang dipegang oleh penyelidik dalam menggunakan metode-metode ini ialah:
1. Bahwa subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.
2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepada penyelidik adalah benar dan dapat dipercaya.
3. Bahwa interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh penyelidik.
Anggapan-anggapan itu sudah tentu mempunyai kelemahan-kelemahan yang tidak sedikit. Oleh karena memang dasarnya adalah self–reports, hal mana sebagian menggunakan prinsip introspeksi, maka kelemahan-kelemahannya adalah:
a. unsur-unsur yang tidak disadari tidak dapat diungkap.
b. Besar kemungkinannya jawaban-jawaban dipengaruhi oleh keinginan-keinginan pribadi.
c. Ada hal-hal yang dirasa tidak perlu dinyatakan, misalnya hal-hal yang memalukan atau yang dipandang tidak penting untuk dikemukakan.
d. Kesukaran merumuskan keadaan diri sendiri kedalam bahasa.
e. Ada kecenderungan untuk mengkontruksi secara logik unsur-unsur yang dirasa kurang berhubungan secar logik

Karena kelemahan-kelemahan yang di sebutkan itu maka seberapa jauh sebenarnya pernyataan-pernyataan atau jawaban-jawaban yang diberikan oleh subjek tergantung juga pada seberapa jauh dalam pernyataanpernyataan atau jawaban subjek itu unsur-unsur kelemahan itu dapat dihindarkan. Kecuali itu self-reports tentang keyakinan, perasaan, motivasi, maupun sikap batin umumnya merupakan hasil dari proses pengambilan keputusan yang sangat kompleks. Seandainya kesukaran bahasa sama sekali tidak mempengaruhi, masih juga sangat sukar untuk memberikan laporan lisan atau tertulis secara adekuat tentang keyakinan, sikap, atau keadaan perasaan. Kita tahu betapa anak kecil mendapatkan kesulitan untuk menyatakan bagian badan mana yang dirasakan sakit. Orang dewasa tidak mendapatkan kesulitan semacam itu karena prosesnya yang sederhana. Namun jika orang dewasa harus nmenghadapi pertanyaan-pertanyaan tertulis maupun lisan yang memintanya untuk mengadakan diagnosa tentang keadaan diri sendiri, keadaannya mungkin sama sulitnya denagn anak kecil yang diminta melaporkan bagian badannya yang sakit.

B. Kuesioner Langsung dan Tidak Langsung
Suatu kuesioner disebut kuesioner langsung jika daftar pertanyaannya dikirimkan langsung kepda orang yang dimintai pendapat, keyakinannya, atau diminta menceritakan tentang keadaan dirinya sendiri. Sebaliknya, jika daftar pertanyaan dikirim kepada seseorang yang diminta menceritakan tentang keadaan orang lain, kuesioner disebut kuesioner tidak langsung. Sudah tentu masing-masing mempunyai kelemahan-kelemahan dan kebaikan sendiri-sendiri, hal mana tergantung kepada isi persoalan yang ditanyakan, kesediaan orang yang menjawabnya, serta kebenaran keterangan-keterangan yang diberikan.
Menurut jenis penyusunan itemnya kuesioner dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu kuesioner tipe lisan dan kuesioner tipe pilihan.
c. Kuesioner Tipe Isian
Semua persoalan yang diajukan kita sebut saja item. Item mungkin diajukan dalam bentuk pertanyaan atau permintaan komentar terhadap suatu kejadian atau keadaan. Responden yaitu orang yang memberi jawaban terhadap pertanyaan atau permintaan dalam kuesioner, boleh dan dapat memberikan jawabannya secara bebas terhadap tiap-tiap item. Item yang memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada responden disebut open end item dan kuesioner yang berisi open end item itu biasa disebut open form questionnaire.
Disamping kuesioner yang yang menyediakan kesempatan yang sebebas-bebasnya dan seluas-luasnya bagi reponden untuk menyatkan pendapatnya, dalam kuesioner tipe isian ada juga harus menyediakan ruangan-ruangan yang sangat terbatas untuk mengisikan data-data yang diperlukan. Item yang memberikan kebebasan menjawab yang terbatas, atau lebih tepatnya yang meminta agar reponden mengisikan beberapa jawaban yang diperlukan disenut supply type item. Kueisoner yang berisi supply type item pada hakekatnya sudah termasuk di dalam closed form questionnaire. Contoh-contoh kedua bentuk kuesioner itu adalah:
1. Bentuk terbuka-open end item
Bagaimana pendapat saudara jika:
1. Semua orang yang ketahuan melakukan korupsi diasingkan saja kepulau yang tidak berpenghuni?
2. Orang-orang yang melakukan korupsi ditembak saja di tengah lapangan yang disaksikan oleh umum?
3. Semua pengusaha diberi kesempatan sebebas-bebasnya bersaingan untuk memberikan harga yang semurah-murahnya kepada mayarakat?
4. Semau anak yang dilahirkan diambil oleh Negara untuk dibesarkan, dilatih, dan dididik sebagai anak Negara?
5. Pelajaran-pelajaran agama di sekolah tidak diberikan dalam bentuk khotbah-khotbah, tetapi dalam bentuk kriteria-kriteria kanak-kanak?
Jawaban bebas, atau free response, memungkinkan penyelidik untuk menyelidiki perasaan, pendapat, atau latar belakang responden secara luas, hal mana sangat berbeda dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyediakan jawaban-jawaban tertentu untuk dipilih salah satu. Kadang-kadang memang sedemikian banyaknya faktor-faktor yang menjadi dasar jawaban sehingga sukar sekali untuk mengkategorikan faktor-faktor itu sebelum jawaban-jawaban diperoleh secukupnya. Malahan kadang-kadang penyelidik mempersilakkan responden untuk menggunakan ruangan-ruangan tambahan jika mereka merasa perlu memberikan komentar terhadap persoalan-persoalan yang diajukan.
Kelemahan-kelemahan kuesioner isian adalah:
1. Responden mungkin sekali merasa segan-segan memberikan jawaban-jawaban yang lengkap sehingga hanya beberapa hal saja yang dapat diselidiki daripadanya.
2. Besar kemungkinnya responden tidak mencantumkan hal-hal yang sebenarnya sangat diperlukan, bukan karena dia tidak tahu, tetapi semata-mata karena hal itu dia pandang tidak penting atau lupa mencantumkannya.
3. Analisa komparatif terhdap hasil-hasil jawaban yang tidak tertentu adalah jauh lebih sukar daripada analisa komparatif hasil-hasil jawaban-jawaban yang seragam.
D. Kueisoner Tipe Pilihan
Item kuesioner tipe pilihan cuma meminta responden untuk memilih slah satu jawaban atau lebih dari sekian banyak jawaban-jawaban (alternatif) yang sudah disediakan. Sebagian daripadanya diberikan dalam bentuk force choice, yaitu bentuk pilihan dengan dua alternatif, misalnya alternatif “ya” atau “tidak”, “setuju” atau “tidak setuju”, “boleh” atau “tidak boleh”, dan semacamnya. Sebagian lagi mungkin diberikan dalam bentuk multiple choice, yaitu bentuk pilihan dengan tiga atau empat alternatif atau lebih, misalnya alternatif “ya”, “tidak tahu”, dan semacamnya. Campuran antara kedua bentuk ini juga kerap kali kita jumpai dalam satu kuesioner.
Item tipe pilihan pada umumnya jauh lebih menarik bagi responden dibandingkan dengan kuesioner tipe lain. Barangkali sebabnya yang terutama adalah kemudahannya dalam memberikan jawaban dan jauh lebih singkat waktunya untuk menjawab. Kesukaran utama justru dialami oleh penyelidik sendiri dalam menyusun pertanyaan-pertanyaan atau statement-statement tertentu. Untuk menjaga objektifitas jawaban-jawaban, maka pertanyaan-pertanyaan atau statement-statement itu harus disusun sedemikin rupa sehingga buat responden pertanyaan-pertanyaan dan statement-statement itu mempunyai arti yang bermacam-macam. Ini bukan pekerjaan yang mudah dan dapat dipersiapkan sekali jadi. Penyusun pertanyaan-pertanyaan dan statement-statement harus menggambarkan bahwa jika dia menginginkan jawaban yang digologkan kedalam “ya’ atau “tidak” semata-mata, kemungkinan-kemungkinan jawaban di tengah-tengah harus sedapat mungkin dihindarikan. Barangkali tidak perlu dikemukakan bahwa diantara putih dan hitam terdapat kelabu, dan jika seseorang menolak untuk memilih putih tidak berarti nmeilih hitam. Kemungkinan-kemungkinan ini memperingatkan kepada penyusun agar menyusun pertanyaan-pertanyaan atau statement-statement yang cukup cermat untuk menghindari hal-hal yang tidak dapat dianalisa.
Baik item tipe pilihan bentuk force choice maupun bentuk multiple choice, dua-duanya dapat digunakan untuk menyelidiki fakta-fakta obyektif (fact finding) maupun untuk menyelidiki fakta-fakta sunyektif (pendapat, keyakinan,dsb). Beberapa contoh item force choice adalah sebagai berikut:
1. Untuk Fact Finding
1. Status jabatan saudara?
( ) Guru Tetap ( ) Guru Tidak Tetap
2. Jenis Kelamin?
( ) Wanita ( ) Pria
3. Apakah saudara mengajar lebih dari satu sekolah?
( ) Ya ( ) Tidak
Dalam daftar tipe ini responden cukup memberikan tanda silang diantara tanda kurung di depan jawaban yang paling cocok dengan keadaan pribadinya.
2. Untuk menyelidiki pendapat
1. Apakah saudara merasa mendapatkan ketentraman dari pekerjaan saudara sekarang?
( ) Ya ( ) Tidak
2. Apakah saudara merasa tugas saudara sekarang ini terlalu berat?
( ) Ya ( ) Tidak
Perlu dicatat bahwa item yang baru disebutkan ini sebenarnya masih mengandung nuances atau variasi-variasi diantara jawaban-jawaban yang disediakan. Diantara “ya” dan “tidak” mungkin masih ada sekian banyak jawaban lagi yang tingkatannya ada diantara kedua jawaban itu. Inilah salah satu kelemahan dari item bentuk force choice, kecuali tidak dapat dipastikan bahwa diantara dua jawaban yang sudah tidak ada lagi jawaban-jawaban diantaranya, misalnya saja item tentang jenis kelamin, guru tetap-tidak tetap, dan semacamnya sebagaimana tersebut dalam contoh bentuk force choice untuk fact finding di atas. Dari sini bentuk multiple choice mulai mengambil alih peranan bentuk force choice itu. Contoh-contoh di bawah akan memberikan pejelasan secukupnya.
Jika alternatif jawaban-jawaban yang disediakan dalam tipe-tipe item sudah melebihi dua, umumnya item semacam itu disebut item multiple choice. Misalnya:
1. Untuk Find Finding
1. Tingkat mengajar:
( ) Sekolah Dasar ( ) SMP ( ) SLA
2. Sudah berapa lama saudara menjadi guru?
( ) 2 tahun atau kurang ( ) 3-4 tahun ( )5-6 tahun
3. Jumlah murid yang saudara hadapi?
( ) Kurang dari 50 orang ( ) 50-99 orang ( ) 100 orang atau lebih
4. Berapa lama saudar mengalami latihan keguruan?
( ) Kurang dari 2 tahun ( ) 2 tahun ( ) 3 tahun
2. Untuk menyelidiki pendapat atau keyakinan
1. Apakah saudara berpendapat bahwa tugas saudara sekarang ini terlalu berat?
( ) Ya, terlalu berat ( ) Cukup berat ( ) Ringan
2. Apakah saudara meras perlu pindah dari tempat pekerjaan saudara yang sekarang?
( ) Ya, perlu dengan segera ( ) Agaknya tidak ( ) Saya tidak akan pindah
3. Bagaimana pendapat saudara tentang status sosial guru pada umumnya?
( ) Tinggi Sekali ( ) Cukup tinggi ( ) Rendah
Sudah jelas dari contoh-contoh diatas bahwa bentuk multiple choice hampir dapat dipastikan merupakan perbaikan terhadap bentuk force choice. Kadar validitas bentuk multiple choice pun pada umumnya lebih tinggi daripada bentuk force choice.
E. Problem Rapport
Dalam pembicaraan tentang metode observasi telah dikemukakan apa arti kata rapport. Kecuali bentuk kuesioner sendiri harus cukup manis dan menarik, ada beberapa hal lagi yang perlu mendapat perhatian untuk membina rapport.
Dibandingkan didalam observasi, sudah terang dalam kuesioner ini rapport lebih sukar dibentuk. Seorang penyelidik mungkin menggambarkan bahwa pertanyaan-pertanyaannya akan kurang mendapat perhatian dari para responden, karena kelihatannya kurang perlu untuk dijawab, sedangkan untuk penyelidik, pertanyaan-pertanyaan itu sangat pentimg. Untuk menjaga adanya face value atau nilai tampang ini kadang-kadang penyelidik perlu memasukkan item yang sebenarnya tidak masuk dalam rencana penyelidikannya. Petunjuk-petunjuk ini perlu diperhatikan:
1. Dalam kata pengantar perlu dihindari kata-kata yang egosentrik. Misalnya saja kata-kata “jika saudara suka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan dan mengirimkannya kembali kepada kami akan kami hargai setinggi-tingginya”.
2. Dalam petunjuk-petunjuk mengerjakan atau menjawab perlu dihindarkan kata-kata yang mengandung perintah atau permitaan yang memaksa. Misalnya saja petunjuk yang berbunyi: “ Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini yang sejujur-jujurnya”, dapat diganti dengan permintaan yang sangat hormat seperti: “ Sudilah saudara menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini sesuai dengan pendapat atau keyakina saudara”.
3. Gunakan pertanyaan-pertanyaan yang netral pada bagian permulaan kuesioner. Juga dalam kuesioner perlu adanya pemanasan. Tiga pertanyaan dibawah ini merupakan contoh pertanyaan pemanasan yang netral sebelum pertanyaan-pertanyaan yang prinsiil dikemukakan (pertanyaan nomor 4).
1. Jenis kelamin saudara:
( ) Wanita ( ) Pria
2. Status perkawinan:
( ) Belum/Tidak nikah ( ) Kawin ( ) Janda
3. Lamanya saudara mengajar:
( ) Kurang dari 2 tahun ( ) 2-4 tahun ( ) 5-6 tahun
4. Bagaimana status ekonomi keluarga saudaraketika saudara p-ertama-tama menjadi guru?
( ) Sangat tinggi ( ) Cukup ( ) Rendah
Pertanyaan nomor empat ini telah mulai menyinggung persoalan inti penyelidikan setelah didahului oleh pertanyaan-pertanyaan pemanasan yang mungkin juga merupakan data yang penting
4. Responden harus mendapat kesan bahwa pertanyaan-pertanyaannya cukup berharga untuk dijawab. Kalau perlu dapat dimasukkan beberapa pertanyaan tambahan untuk menjaga face value.
5. Jagalah susunan dan format kuesioner yang manis dan menyenangkan. Kecerobohan-kecerobohan akan mengurangi banyaknya responden yang mengembalikan jawabannya atau banyaknya responden yang mau menjawab dengan serius.
6. Gunakan bentuk kuesioner yang meminta pengorbanan yang sekecil-kecilnya dari pihak responden, baik dari segi waktu maupun tenaga dan pikiran.
F. Menyusun Petunjuk
Dalam menyusun petunjuk-petunjuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut
1. Petunjuk harus sesingkat-singkatnya, tetapi selengkap-lengkapnya. Petunjuk yang terlalu panjang memungkinkan kebingungan yang tidak perlu, salah tafsir, atau rasa acuh tak acuh.
2. Kecuali singkat, petunjuk harus jelas. Hindarkan kata-kata yang kabur maknanya, kata-kata asing, atau kata-kata politik.
3. Apa yang perlu ditonjolkan, tonjolkan dengan huruf-huruf besar, kata-kata yang digaris di bawahnya, atau kata-kata diantara tanda petik.
4. Berilah petunjuk baru tiap-tiap kali jawaban yang diinginkan berlainan sekali dengan tipe jawaban sebelumnya.
5. Jika dirasa perlu untuk memberikan contoh, berilah satu dua contoh mengenai bagaimana cara menjawabnya. Dalam hal ini perlu diingat bahwa contoh iti sendiri jangan sampai menimbulkan semacam saran atau sugesti sehingga menimbulkan jawaban-jawaban yang stereotipik atau searah.
G. Menyusun Item
Item yang baik dalam kuesioner sama pentingnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang baik dalam interview atau penglihatan yang tajam dalam observasi. Pertanyaan-pertanyaan adalah alat untuk memancing response. Jika alat ini sendiri suadah keruh, akan sama halnya dengan mikroskop yang keruh untuk memrriksa sel-sel atau bakteri-bakteri. Untuk menghindari hal-hal semacam itu baiklah diperhatikan petunjuk-petunjuk penususna item di bawah ini:
1. Gunakan kata-kata yang tidak rangkap artinya.
2. Susun kalimat yang sederhana dan jelas.
3. Hindari pemasukkan kata-kata yang tidak ada gunanya.
4. Hindari pemasukkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu.
5. Masukkan kemungkinan semua jawaban agar pilihan jawaban mempunyai dasar yang beralasan, tetapi hindari pengkhususan yang tidak esensial, baik dalam pertanyaannya, maupun dalam jawabannya.
6. Perhatika item yang dimasukkan harus diterapkan pada situasi dari kaca mata responden.
7. Hindari menanyakan pendapat responden, kecuali pendapat itulah yang hendak diselidiki. Ini sangat perlu untuk menghindari kekaburan mana yang real facts (fakta-fakta sebagaimana apa adanaya) dan mana yang ideal facts ( Fakta-fakta tentang pendapat, keyakinan, atau keinginan pribadi responden).
8. Hindari kata-kata yang terlalu kuat (sugestif, menggiring) dan yang terlalu lemah (tidak mernagsang). Kata-kata yang menggiring akan mendorong responden untuk keluar dari pagar fakta-fakta. Kata-kata yang lemah tidak akan memancing response yang adekuat.
9. Susun pertnyaan-pertanyaan yang tidak memaksa responden menjawab yang tidak sebenarnya karena takut akan tekanan-tekanan sosial.
10. Hindari membuat pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab dengan multiple response bila hanya satu jawaban yang diinginkan.
11. Jika mungkin susunlah pertanyaan-pertanyaan sedemikian rupa sehingga dapat dijawab denag hanya memberi tanda silang atau tanda-tanda checking lainnya.
12. Pertanyaan-pertanyaan harus diajukan sedemikian rupa sehingga dapat membebaskan responden dari berpikir telalu kompleks.
13. Hindari kata-kata yang sentimental, seperti dungu, budak, dictator,sdb. Sekiranya ada kata-kata lain yang lebih sopan dan netral.
H. Tryout Preliminer
Umumnya, sebelum kuesioner dikirimkan kepada responden yang sesungguhnya diadakan tryout preliminer lebih dahulu. Maksud dari tryout preliminer ini adalah:
1. Untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang kurang jelas maksudnya.
2. Untuk meniadakan penggunaan kata-kata yang terlalu asing, terlalu akademik, atau kata-kata yang menimbulkan kecurigaan.
3. Untuk memperbaiki pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilewati atau hanya menimbulkan jawaba yang dangkal
4. Untuk menambah item yang sangat perlu atau meniadakan item yang ternyata tidak relevan dengan tujuan research.
Mungkin ada baiknya jika sebelum pengisian kuesioner secara besar-besaran, penyelidik membuat kerangka dan bentuk sememtara kuesioner dan meminta kritik-kritik dan saran-saran dari para ahli. Dari kritik-kritik dan saran-saran itu kemudian dibuatlah bentuk kwarto-final, dan bentuk ini dikirimkan kepada beberapa orang yang “segolongan” (satu sampel) dengan orang-orang untuk siapa kuesioner yang sebenarnya hendak ditujukan.
Untuk mencapai maksud itu petunjuk-petunjuk kerja dibawah ini mungkin sangat besar faedahnya.
A. Taraf Persiapan Orientasi
1. Buatlah kerangka faktor-faktor yang hendak diselidiki.
2. Susun pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya dapat mengungkap faktor-faktor yang hendak diselidiki itu.
3. Bawalah kerangka dan bentuk preliminer itu kepada seorang atau dua orang ahli. Minta kritik dan saran dari mereka.
4. Dari hasil konsutasi dengan ahli-ahli itu, buatlah bentuk kwarto-final untuk ditryoutkan.
B. Taraf Tryout Preliminer
1. Kirimkan bentuk kwarto-final itu kepada beberapa orang yang masih termasuk dalam sampel penyelidikan. Ambilah hanya orang-orang yang mudah dihubungi atau dicapai untuk ini.
2. Adakan diskusi dengan mereka tentang hal-hal yang ditanyakan, penyusunan kata-katanya, dan pendapat atau reaksi mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
3. Buatlah daftar analisa jawaban termasuk daftar tabulasi untuk jawaban-jawaban mereka. Ini harus dilakukan selengkap-lengkapnya sebagaimana jawaban dari kuesioner yang sesungguhnya hendak dianalisa.
4. Carilah petunjuk-petunjuk dari analisa itu items mana yang perlu diperbaiki dan item apa saja yang perlu dieliminasi dan ditambahkan.
5. Adakah perbaikan terhadap item yang diperlukan. Perbaikan ini perlu dipusatkan pada:
a. Mengganti kata-kata yang asing, terlalu akademik, dan dapat menimbulkan prasangka dan reaksi yang negatif dari pihak responden.
b. Mengganti pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilewati atau yang menimbulkan jawaban-jawaban yang dangkal atau meragukan.
c. Menambah dan mengurangi pertanyaan yang kurang dan atau berlebihan menurut keseimbangan yang baik untuk menyelidiki faktor-faktor yang hendak diselidiki.
6. Atas dasar perbaikan itu buatlah bentuk semi final atau final tergantung keadaannya apakah tryout yang kedua diperlukan ataukah tidak.
C. Taraf Tryout Selanjutnya
Ulangi langkah-langkah dalam tryout preliminer jika tryouts lain masih diperlukan, sampai tercapai bentuk final. Final form inilah yang nantinya akan dikirimkan secara besar-besaran kepada responden yang sesungguhnya.
I. Surat Pengantar
Tiap-tiap kuesioner menggunaka surat pengantar. Isi pokok surat pengantar ini adalah menerangkan maksud yang sebenarnya dari research yang menggunakan kuesioner itu. Dengan surat pengantar ini diharapkan didapatkan kerjasama yang sebaik-baiknya dari pihak responden untuk memberikan informasi yang sangat diperlukan untuk penyelesaian proyek research yang sedang diselenggarakan.
Maksud research harus dinyatakan dengan terus terang dan sejelas-jelasnya untuk menghindari kecurigaan yang mungkin timbul pada pihak responden. Informasi yang diperlukan adalah informasi yang benar dan dapat dipercaya. Data semacam ini sukar diperoleh jika sejak semula sudah ada prasangka atau keseganan pad apihak penjawab. Jika oleh suatu alasan dirasa perlu menghindari ideal-facts, alasan ini tidak perlu diselundupkan dalam pertanyaa-pertanyaan. Justru sukar pengantar ini dimaksudkan antara lain untuk dan harus dapat menghindari kekhawatiran terhadap jawaban-jawaban yang tidak sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Selanjutnya untuk menjamin kerja sama dari pihak responden dapat juga disetakan daftar orang-orang yang dikirimi kuesioner untuk menimbulkan motovasi bahwa dari mereka itu benar-benar diperlukan informasi-informasi untuk merampungkan research yang sedang diselenggarakan. Akan tetapi penyertaan daftar ini dialukan hanya jika dipandang sangat perlu. Jika dengan penyertaan daftar iniinformasi yang diperlukan jusrtu akan menjauhi factual, daftar itu tidak perlu disertakan. Yang penting adalah bahwa dalam suarat pengantar dapat ditimbulkan kesan bahwa responden termasuk orang yang penting kepada siapa informasi yang benar dipercayakan, dan betapa pentingnya informasi itu untuk penyelesaian proyek research.
Sususan dan format surat pengantar harus menunjukkan persiapan yang matang, bukan dibuat dengan tergesa-gesa dan menimbulkan kesan bahwa surat ini hanya memenuhi formalitas semata-mata. Dari surat pengantar inilah kesan pertama akan diperoleh responden, apakah memang ia sangat diperlukan sebagai salah seorang sumber informasi. Akan tetapi lebih baik surat pengantar ini ditanda tangani dengan tinta satu demi satu oleh pengirim, tidak ditulis dengan “tertanda”, distensil, atau ditanda tangani dengan cap.
Untuk menimbulkan kerjasama kadang-kadang ditawarkan kepada penjawab pengiriman hasil penyelidikannya. Akan tetapi penyelidik harus menyadari bahwa janji ini akan memakan biaya yang banyak dan waktu yang tidak sedikit. Jika janji diberikan, peyelidik harus konsekuen. Ini diperlukan bukansaja oleh karena janji harus ditepati, tetapi juga pengingkaran akan merusak fasilitas pada research berikutnya.
Jika ada kepastian bahwa hasil research akan dipublikasikan, ada baiknya jika penerima kuesioner diberitahu juga kemungkinan itu dengan menyebutkan kapan kira-kira publiksai itu dan siapa penerbitnya. Jika tidak ada kepastian tentang publikasi ini dan ada sarat-sarat tang secukupnya pada pihak penyelidik untuk mengirimkan beberapa copy laporan kepada penjawab, maka penyelidik dapat menawarkan bahwa jika diperlukan penyelidik bersedia mengirimkan satu copy atau lebih kepada penjawab yang mengajukan permintaan. Umumnya hanya sedikit dari responden yang benar-benar menaruh perhatian tentang ini, entah karena mereka sudah lupa, entah oleh karena mereka memang tidak merasa perlu mengetahui hasil-hasil researchnya. Bagaimanapun juga, cara Ini ternyata lebih murah daripada menjanjikan pengiriman laporan kepada semua penjawab. Akan tetapi perlu sekali tidak ditakankan bahwa jika janji telah diberikan, janji itu harus ditepati dengan setertib-tertibnya.
J. Endorsement
Untuk mendapatkan lebih banyak kerjasama dan informasi yang lebih reliable, teutama untuk proyek-proyek research yang penting, kerapkali diperluka “backing” dari orang-orang penting dari bidang spesialisasi atau dari lembaga-lembaga yang menaruh kerpentingan dan perhatia yang besar terhadap penyelenggaraan research. Jika mungin, surat pengantar yang dikirimkan menggunanakan blangko yang memakai kop lembaga. Lebih kuat lagi backingnya jika surat pengantar ini juga diketahui atau dikuatkan oleh Kepala Bagian Research, Konsultan atau Sponsor. Untuk beberapa penerima kuesioner yang dipandang penting malahan tidak jarang disertakan selambar surat endorsement lainnya dari salah seorang diantara yang disebutkan di atas.
K. Pengunaan Nama dan Tanda-Tanda Samaran
Ada pendapat bahwa jika penjawab tidak perlu menunjukkan namanya, penyelidik akan mempeoleh informasi yang lebih jujur dan komplit. Pendapat ini mungkin mengandung kebenaran. Misalnya jika dimaksudkan untuk memperoleh data tentang penilaian responden terhadap pimpinan ( seperti guru, kepala jawatan, manager perusahaan, walikota,dll), atau penilaian terhadap kebijaksanaan suatu lembaga hokum atau pemerintahan (misalnya sistem perundang-undangan, peraturan-peraturan pemerintah, pelaksanaan suatu program,dll)maka jika responden merasa ragu-ragu dimana penyelidik berdiri, jawaban dari mereka secara terus terangtanpa ada apa-apa yang disembunyikan memang agak sukar diharapkan. Walaupun begitu masih perlu diingat bahwa dalam prinsipnya dta research harus didasarkan atas sumber-sumber yang terang atau informan-informan yang pasti. Keadaan ini menghadapkan penyelidik pada uda alternative, yaitu bekerja terus terang dengan sumber-sumber informasi yang tidak terang dan meragukan, ataukah sama sekali melepaskan proyeknya.
Pemecahan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah tidak memilih salah satu dari dua alternatif itu, melainkan mencari satu cara yang dapat memenuhi prinsip research ilmiah, tetapi npara informan dapat memberikan informasi yang semaksimal mungkin. Cara ini adalah memberikan kesempatan kepada informan untuk menggunakan nama samaran. Sebab keberatan umtuk menggunakan nama terang adalah security dari informan jika informasinya tidak dikehendaki dan diketahui oleh suatu pihak. Motif ini harus dipenuhi dan keberatan semacam itu harus mendapatkan jaminan perlindungan. Caranya ialah bahwa penjawab diperkenankan menggunakan nama samaran tetapi di samping itu pada suatu strook kecil secara terpisah kepada responden disediakan ruangan untuk menyebutkan apa nama samaran (yang lebih tepat adalah nomoasamaran dengan empat atau lima angka yang dapat mereka pilih sendiri) yang mereka gunakan. Strook ini dikirimkam secara terpisah dengan daftar kuesionernya dan dikirimkan kepada seseorang yang memberikan jaminan kerahasiaan dan security responden, dalam suatu sampul yang dilem secara rapid an dituliskan di depannya secara jelas “samaran sangat rahasia” (“anonymity. Very confidential”). Sampul dari strook ini telah disediakan oleh penyelidik, lengkap dengan alamat dan perangko yang masih baru. Pada strook itu dituliskan jaminan bahwa nama penjawab tidak akan diketahui oleh orang lain kecuali penerima. Selanjutnya setelah strook itu diterima, jawaban kepada pengirimsegera dinerikan untuk menyatakan terima kasih dan memberikan nomor kode responden dan semua laporan akan amenggunakan nomor itu.
Sebenarnya jika kuesioner tidak mengenai pernilaian-penilaian yang membahayakan penjawabnya jika namanya diketahui oleh pihak-pihak yang tidak menyenangi jawaban itu, penjawab harus mendapat kebanggaan dari membutuhkan tanda tangan pada akhir jawabannya. Pada kuesioner yang biasa menawarkan kepada penerimanya untuk memberikan atau tidak memberikan tanda tangan dan nama terang malahan akan menimbulkan kesan bahwa informasi daripadanya tidak sangat diperlukan. Akan tetapi jika toch diperlukan kerahisiaannya, suatu cara lain dapat dipertimbangkan. Cara ini tidak minta penjawab untuk menandatangani jawabannya dan menunjukkan nama terangnya. Jika penyelidik memegang prinsip bahwa ia harus tahu identifikasi penjawabnya, ia dapat memberi tanda-tanda samaran tertentu pada kuesioner kepada siapa kuesioner itu dikirimkan. Ini dapat dilakukan dengan membutuhkan nama penjawab deengan tanda yang tak terlihat pada suatu tempat dalam daftar kuesioner. Tetapi cara ini telah menjadi rahasia umum. Cara lain yang masih agak baru adalah sebagai berikut:
1. Buat suatu daftar nama dengan urutannya. Kartu ini disebut dengan kartu identifikasi.
2. Letakkan daftar kuesioner disebelah kanan (atau kiri) kartu identifikasi.
3. Beri tanda dengan tusukan jarum pada daftar kuesiner yang sebaris dengan nam orang yang hendak dikirimi.
Jika yang dikirimi kuesioner cukup banyak maka dapat dibuat kartu identifikasi pada kertas lain dan untuk tanda identifikasi digunakan dua tusukan jarum atau satu tusukan yang letaknya satu sentimeter lebih ke dalam, atau lain-lain crania. Dengan begitu anominitas dapat dipertahankan, dan soalnya sekarang tinggl lagi pada penyelidik sendiri, apakah ia tetap dapat memenuhi kewajiban moralnya untuk tidak melanggar kepercayaan yang telah diberikan kepadanya oleh responden.
L. Susunan dan Format Kuesioner
Format kuesioner dan susunanya harus cukup manis, menyenangkan untuk dilihat, mudah diketahui keseluruhannya dan merangsang serta mengundang jawaban. Pertanyaan tidak disusun secara berjejal-jejal, melainkan diatyr secara rapi dan tidak meminta pengorbanan waktu dan pikiran yang terlalu banyak dari pihak penerima. Perlu diingat bahwa bnayak sedikitnya kuesioner yang dikembalikan juga tergantung pada faktor format dan susunan kuesioner. Daftar kuesioner yang formatnya setengah folio akan lebih menarik daripada satu foloio penuh.
M. Isi dan Panjang Kuesioner
Isi dan panjang darpada kuesioner mempunyai hubungan yang timbal balik. Kuesioner yang panjang akan banyak isinya sedang kuesioner yang banyak isinya akan meminta ruangan yang panjang.
Isi kuesioner ditentukan oleh banyak sedikitnya persoalan yang hendak diselidiki. Dalam prinsipnya kuesioner jangan terlalu pendek sehingga keterangan pokok yang diperlukan tidak dapat tercapai. Tetapi juga jangan terlalu panjang sehingga akan ditolak oleh penerima karena telalu banyak meminta pengorbanan waktu dan pikiran. Terlalu banyak kuesioner yang tidak dikembalikan mungkin akan menimbulkan persoalan tentang representativitas sample yamg mengembalikan kuesioner itu untuk populasi yang dimaksudkann oleh penyelidik.
Jika proposal yang hendak diselasikan dengan kuesioner cukup banyak, maka pemecahannya sudah pasti bukanlah mengurangi isi kuesioner melainkan antara lain membuat kuesioner yang panjang itu menjdai pendek. Kuesioner yang panjang akan kelihatan lebih pendek jika:
1. Dapat dicetakkan dengan hurf-huruf yang kecil daripada huruf-huruf ketik. Dengan dicetakkan inipanjang kuesioner menjadi kira-kira sepertiga jika daripada diketik distensil. Akan tetapi dengan cara ini, biayanya akan bertambah jika kuesioner hanya ditujukan kepada beberapa puluh atau bebrapa ratus orang penjawab.
2. Dapat diatur susunan pertanyaan yang indah dan meanrik, pertanyaan dikelompok-kelompokkan, dan untuk tiap item dalam tiap-tiap kelompok dimulai dengan pertanyaan nomor vsatu.
N. Waktu Pengiriman Kuesioner
Untuk menjamin presentase pengembalian yang tinggi penyelidik perlu mengetaui pada waktu-waktu apa penerima-penerima kuesioner dalam keadan sibuk, banyak bepergian, atau tidak “in the mood” untuk menjawab kuesioner itu. Untuk guru-guru misalya harai-hari yang tercatat paling sibuk ada;ah hari-hari pembukaan sekolah, hari ulangan-ulangan, hari ujian dan hari-hari mengdahapi suatu perayan pendidikan. Waktu liburan agak panjang adalah waktu bepergian danrekreasi. Karena itu, waktu-waktu libur semacam itu sebaiknya tidak diganggu gugat. Mengingat faktor-faktor ieu penyelidik harus mempertimbangkankan sebaik-baiknya waktu-waktu peka untuk mengirimkan kuesioner.
O. Fasilitas Pengembalian Kuesioner
Faktor kecil yang kerap kali kurang mendapat perhatian pengirim kuesioner adalah faktor fasilitas pengembalian jawaban. Responden telah dimintai jasa mereka dan apapun usaha yang dapat meringankan beban mereka perlu dicoba. Beberapa hal yang menghambat pemgembalian jawaban adalah: tidak tersedianya sampul untuk mengirimkan kembali jawaban, tidak tersedianya perangko untuk mengeposkan jawaban, kurang jelas atau kurang tegasnyapermintaan apakah jawaban harus dikembalikan dengan segera atau tidak.
P.Tindakan-Tindakan Follow Up
Dengan tindakan-tindakan follow up biasanya dapat diperoleh pengembalian yang cukup banyak. Beberapa dari tindakan follow up dapat diberika sebagai berikut: mengirimkan lagi “suatu surat perhatian”. Dimaksudkan agar penerima suka memberikan perhatian terhadap kuesioner yang sudah dikirim kepadanya, jika sampai akhir waktu yang ditentukan habis, tetapi denga surat perhatian pun masih belum juga jawaban dikembalikan dapat dikirimkan lagi copy kuesuiner yang baru, megirimkan melalui atau meminta salah seoarang sahabat reponden mengirimkan surat perangsang. Surat perangsang adalah surat berita biasa yang antara lain berisi kabar bahwa pengirim pernah menerima suatu kuesioner dari salah seorangyang mengajukan pertanyaan yang sangt menarik perhatian.
Q. Penganalisaan Data Yang Masuk
Untuk keperluan penganalisaan data yang masuk harus dilakukan persiapan yang matang. Prosedur penganalisaan yang umum adalah sebagai berikut: segera mengecek jawaban-jawaban yang lengkap dan yang tidak lengkap, segera mentabulasikan hasil-hasil jawaban kedalam daftar tabulasi yang telah dipersiapkan, menyelidiki ada tidaknya jawaban yang tidak konstan, jika ada data yang sudah cukup komplit dan semua proses persiapan analisis telah dilakukan sebaik-baiknya maka analisa yang sebenarnya dapat segera dilakukan.
R. Problem Representativitas Sampel
Pengalaman menunjukkan bahwa hampir dapat dipastikan tidak semua kuesioner dikembalikan oleh penerimanya. Banyak kemungkinan yang menjadi sebabtidak kembalinya kuesioner itu.
1. Kuesioner tidak dapat diterima oleh alamat yang dituju, karena hilang ditangah jalan, penerima sedang meninggalkan alamatnya buat sementara, penerima telah pindah rumah untuk selamanya, penerima telah meninggal dunia.
2. Kueisoner sudah sampai kepada alamat yang dituju, tetapi tidak dijawab karena beberapa alasan, yaitu lebih sedikit orang yang acuh tak acuh yang mau mengembalikan kuesioner daripada orang-orang yang menaruh perhatian yang besar terhadap persoalan yang diajukan, ada kecenderungan pada orang yang kurang kompeten untuk melemparkan suatu kuesioner ke dalam keranjang sampah daripada menjawabnya karena merasa khawatirdiketahui ketidakmampuannya atau kurang pengetahuan yang ia miliki tentang lapangannya sendiri.

Pengertian
(Dikutip dari buku Lerbin R. Aritonang R)
Kuesioner adalah sehimpunan pertanyaan atau pernyataan mengenai subjek suatu variable yang diajukan kepada dan untuk memperoleh tanggapan dari subjek. Tanggapan ini merupakan data mengenai suatu variable yang dinaksudkan untuk menjawab permasalahan penelitian.
Salah satu kelemahan dari metode observasi adalah tidak dapat digunakan untuk memperoleh data mengenai hal-hal yang sudah terjadi. Metode obsevasi juga tidak dapat digunakan untuk memperoleh data mengenai suatu perilaku yang dianggap sangat bersifat pribadi dan sangat subjektif. Kelemahan ini dapat diatasi dengan metode angket maupun wawancara.
Selain untuk mengatasi kelemahan observasi di atas, pengguna metode angket juga didasarkan pada asumsi tertentu.Asumsi ini dikemukakan oleh Edwards 1957):
“It might seem logical to assume thay if we want to know how indifiduals feel about some particular psychological object, the best procedure would be to ask them.” Jadi menurut Edwards, metode angket merupakan prosedur terbaik untuk memperoleh informasi mengenai perasaan seseorang terhadap variable psikologis tertentu.
Menurut Hadi, asumsi yang mendasari penggunaan data yang diperoleh dari laporan mengenai diri sendiri , melalui kuesioner atau wawancara , adalah bahwa: subjek merupakan orang yang paling mengetahui mengenai dirinya sendiri, apa yang dinyatakan oleh subjek kepada penyelidik adalah benar dan dapat dipercaya, interprestasi subjek terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh penyelidik.
B. Jenis
Dapat dibedakan berdasarkan metode pengadministrasian, bentuk tanggapan, derajat formalitas, dan ketersamaran tujuan penggunaannya. Berdasarkan metode pengadministrasiannya dibedakan menjadi kuesioner yang diadministrasikan sendiri oleh subjek, dan yang diadministrasikan oleh kolektor data, melalui telepon, dan melalui komputer.
Berdasarkan bentuk tanggapan yang diberikan oleh subjek atas pertanyaan yang diajukan dibedakan menjadi kuesioner isian, dikotomis, multikotomis. Pada kuesioner isian, subjek mungkin diminta untuk memberikan tanggapan secara singkat, misalnya dengan menuliskan satu atau dua kata, atau memberikan jawaban dalam satu atau lebih kalimat. Dikotomis, subjek hanya diberi dua alternatif untuk memberikan tanggapannya atas pertanyaan yang diajukan, misalnya berupa ya atau tidak. Multikotomis, subjek memiliki lebih dari dua alternatif tanggapan atas pertanyaan yang diajukan, misalnya berupa sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju.
Berdasarkan derajat formalitasnya, dibedakan menjadi kuesioner terstruktur dan tidak terstruktur. Hal-hal yang akan ditanyakan pada kuesioner terstruktur telah dirinci atau mungkin telah ditulis dalam pertanyaan-pertanyaan yang terinci. Hal-hal yang akan ditanyakan pada tidak berstruktur tidak atau belum dapat diidentifikasi secara terinci sehingga belum dapat diterjemahkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang rinci. Hal-hal yang ditanyakan pada kuesioner tidak berstruktur itu biasanya dikemukakan dalam bentuk topik-topik tertentu secara garis besar dan perinci lebih lanjut dari tiap topik itu dikembangkan oleh kolektor data pada saat angket digunakan.Angket tak berstruktur biasanya digunakan pada penelitian ekploratif.
Berdasarkan ketesamaan tujuan penggunaan kuesioner bagi subjek, dibedakan menjadi tersamar dan tidak tersamar, Pada kuesioner tersamar, tujuan yang sebenarnya dari pemberian tidak diberitahukan kepada subjek. Sebaliknya yang tak tersamar, tujuan yang sebenarnya dari pemberian diberitahukan secara eksplisit kepada subjek
C. Pengembangan Kuesioner
Untuk mengembangkan suatu kuesioner, perlu dilakukan beberapa kegiatan, diantaranya menspesifikasi informasi yang akan diperoleh dan penentuan pertanyaan individual.
1. Spesifikasi Informasi yang Akan Diperoleh
Spesifikasi informasi yang akan diperoleh melalui angket dapat dilakukan dengan menspesifikasikan secara lebih rinci tujuan penelitian dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Peneliti juga harus menspesifikasikan karakteristik subjek darimana informasi itu diperoleh. Hal yang berguna untuk menentukan apakah angket tepat digunakan untuk memperoleh informasi itu.
Selain itu, perlu menetapkan apakah informasi yang akan diperoleh itu berupa fakta atau pendapat. Hal itu akan menentukan butir-butir, kata maupun kalimat pertanyaan. Spesifikasi informasi itu harus tetap mengacu pada definisi konseptual variable yang akan diperoleh data empirisnya.
2. Penentuan Pertanyaan Individual
Pertanyaan-pertanyaan individual yang digunakan pada angket dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang dispesifikasikan sebelumnya. Dalam kaitan itu, Boyd, Westfall, dan Stasch (2004) mengemukakan pertanyaan yang perlu dijawab.
- Apakah subjek memiliki informasi itu?
- Bila subjek memliliki informasi itu, apakah subjek bersedia memberikan informasi itu?
- Apakah subjek membutuhkan banyak waktu untuk memberikan informasi itu?
- Apakah satu pertanyaan culup untuk memperoleh informasi itu atau lebih dari satu pertanyaan?
3. Penentuan Tipe dan Metode Pengadministrasian
Setelah informasi yang akan diperoleh dispesifikasikan dan pertanyaan individual ditentukan, peneliti harus menentukan tipe dan metode pengadministrasiannya. Metode pengadministrasian itu dapat melalui telepon, pribadi atau surat. Tipenya harus berkaitan dengan apakah kuesioner itu menggunakan pertanyaan terbuka atau tertutup, pertanyaan dikotomis atau pilihan ganda.
4. Penulisan Pertanyaan
Dalam menuliskan pertanyaan maupun penyediaan alternative tanggapan atas pertanyaan, perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya buatlah pertanyaan dengan berorientasi pada sudut pandang subjek, Gunakanlah kata dan pertanyaan yang sederhana, jelas, tidak memiliki arti ganda hindarkan istilah yang hebat tetapi kurang atau tidak dimengerti oleh responden, sedapat mungkin jangan menggunakan pertanyaan dengan kalimat yang terlalu panjang, hindari penggunaan kata maupun pertanyaan yang tidak perlu, yang tidak langsung berkaitan dengan tujuan penelitian, hindari pertanyaan yang sifatnya menggiring, sugestif, tanyakanlah hanya satu hal untuk tiap pertanyaan, jangan menggunakan pertanyaan yang memaksa subjek untuk memberikan jawaban yang tidak sebenarnya, bila memungkinkan gunakanlah pertanyaan yang menuntut sedikit usaha subjek untuk menjawabnya, baik dalam berpikir, mempersaipkan maupun menuliskan jawabannya, hindari penggunaan kata-kata yang sentimental, sertakan semua kemungkinan alternative tanggapan,pertanyaan harus berlaku bagi semua responden,hindari pertanyaan yang mempunyai lebih dari satu pengertian.


5. Penentuan Urutan Pertanyaan
Pertanyaan yang mengungkapkan hal yang luas ditempatkan dibagian awal dan disusul dengan pertanyaan yang mengungkapkan hal yang lebih khusus. Pertanyaan-pertanyaan juga disusun dari topik ke topik lainnya secara logis. Pertanyaan yang sederhana, menarik dan objektif ditempatkan dibagian awal. Pertanyaan yang berkaitan dengan identitas subjek lazim dibuat pada bagian awal, pertanyaan yang sulit dan peka ditempatkan pada bagian akhir.
Adakalanya memuat pertanyaan yang bercabang, misalnya bila Anda menjawab ‘ya’ pada pertanyaan ini, Anda dipersilakkan melanjutkan kepertanyaan nomor 15. Dalam kaitan ini, perancangan percabangan harus dilakukan denagn hati-hati (Churchill, Jr., 1995). Menurut Tull dan Hawkins (1993), pada pertanyaa awal harus dihindari pemberian kerangka acuan yang bias atau jawaban yang mengarah ke jawaban atas pertanyaan berikut.
6. Penulisan Instruksi
Memuat instruksi mengenai cara subjek untuk memberikan jawaban setiap pertanyaan. Instruksi itu mencakup cara subjek untuk memberikan tanggapan atas tiap pertanyaan, cara subjek merevisi tanggapannya yang terlanjur salah, serta cara dan alamat pengembalian bila dikirimkam melalui surat.
Menurut Hadi (1992), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis instruksi suatu angket, yaitu: hindari kata-kata yang mengandung perintah atau permintaan yang sifatnya memaksa, tulislah instruksi sesingkat-singkatnya, tetapi selengkap-lengkapnya, gunakanlah kata-kata yang jelas, tidak mengandung makna yang kabur maupun kata-kata asing, tonjolkan hal yang perlu mendapat perhatian dari subjek dengan huruf besar atau garis bawah atau di antara tanda petik atau cetak tebal atau warna yang berbeda, berikanlah petunjuk baru tiap kali jawaban yang diinginkan sangat berlainan dengan tipe jawaban sebelumnua, serta bila dipandang perlu, berikanlah contoh pemberian tanggapan atas pertanyaan angket.
7. Penentuan Karakteristik Fisik
Karakteristik fisik perlu juga mendapat perhatian dari peneliti karena bentuk fisik angket yang menyenangkan atau menarik akan lebih mendorong subjek untuk memberikan tanggapan atas pertanyaan pada suatu angket. Angket umumnya diketik pada kertas kuarto, penggunaan aneka bentuk huruf perlu juga dupertimbangkan, asalkan tidak membingungkan subjek dan merusak keasrian penampilan angket.
8 Penentuan Kode
Pada penelitian konklisif, data yang diperoleh biasanya dianalisis dengan teknik statistik. Untuk itu, peneliti perlu memperhatikan penentuan kode numerik atas tiap kemungkinan tanggapan yang diberikan subjek atas tiap pertanyaan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat daftar analisis dan tabulasi silang yang diperlukan untuk penganalisisan data dengan teknik analisis statistik yang akan digunakan.
Pada penelitian eksploratif, data yang di[eroleh melalui angket biasanya dianalisis dengan teknik-teknik analisis kuantitatif, seperti analisis isi. Dalam keadaan yang demikian, peneliti harus mengantisipasi hal-hal yang diperlukan untuk menggunakan analisis itu.
Cara paling aman untuk penentuan skor dalam tiap kemungkinan tanggapan atas pertanyaan angket adalah dengan melakukan simulasi analisis data pada saat pelaksanaan uji coba angket. Itu dilakukan sebelum angket diberikan kepada subjek yang sebenarnya pada suatu penelitian. Untuk itu, peneliti memberikanb angket kepadanya sejumlah kecil saja. Kemudian hasilnya diberi skor dan dianalisis dengan teknik analisis statistik yang akan digunakan pada penelitian itu. Dengan cara demikian, peneliti akan mengetahui apakah masih ada hal-hal yang masih perlu untuk diperbaiki sebelum diberikan kepada subjek yang sebenarnya dari penelitian yang akan dilakukan.
9. Pemeriksaan Ulang
Sebelum diujicobakan, peneliti perlu memeriksa kembali untuk mengetahui kekeliruan yang mungkin terjadi dalam pengadministrasian. Hal-hal yang akan diperiksa itu mengacu pada hal-hal yang akan dijelaskan mengenai tujuan pengujicobaan dan perbaikannya.
D. Pertanyaan Yang Peka
Dari hasil uji coba, peneliti mungkin dapat mengidentifikasi adanya pertanyaan yang dipandang peka sehinnga menyinggung privasi dari subjek. Berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan, pertanyaan yang demikian mungkin tidak dapat ditiadakan. Dalam keadaan yang demikian,ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan terhadap pertanyaan yang peka (Barton, 1958; dalam Aaker, Kumar, dan day, 1995).
1. Pendekatan Kasual
Pendekatan kausal digunakan seolah-olah peneliti menanyakan informasi yang dibutuhkan secara sambil lalu, misalnya dengan menggunakan pertanyaan, apakah Anda menggunakan alat X selama minggu terakhir ini?
2. Kartu Bernomor
Penggunaan kartu bernomor dilakukan dengan menuliskan nomor dari tiap alternatif tanggapan atas pertanyaan yang diajuka pada kartu yang terpisah untuk tiap alternatif tanggapan. Kemudian, subjek diminta untuk memberikan tanggapannya dengan memilih kartu yang nomornya sesuai dengan dirinya.
3. Pendekatan Tiap Orang
Pendekatan tiap orang digunakan dengan mengkaitka pertanyan dengan keadaan dari tiap orang yang ada, misalnya seperti Anda ketahui bahwa beberapa orang memakan permen karet ini. Apakah Anda juga memakannya?
4. Pendekatan Orang Lain
Pendekatan orang lain dilakukan dengan memberitahukan ledih dulu informasi mengenai orang lain yang keadaannya sama dengan subjek. Denga cara itu, subjek diharapkan akan lebih lugas untuk memberikan tanggapannya karena kepada subjek telah diberitahukan bahwa keadaan yang berkenaan dengan informasi yang dimintakan juga dialami juga oleh orang lain. Contoh pertanyaannya adalah sebagai berikut: apakah Anda mengetahui adanya orang dewasa yang memakan permen karet ini? Bagaimana dengan Anda sendiri?
5. Teknik Surat yang Disegel
Teknik ini dilakukan dengan memberitahukan kepada subjek bahwa subjek memiliki hak untuk dirahasiakan identitasnya mengenai informasi yang diberikan. Untuk itu, kepada subjek diberitahukan juga bahwa angket yang telah diisinya itu akan dimasukkan ke dlalm amplp yang tersegel. Dengan demikian, hanya peneliti yang akan mengetahui informasi itu maupun identitasnya dan amplop itu diterima serta dibawa langsung oleh peneliti atau pengumpul data.


6. Teknik Kinsey
Teknik Kinsey dilakukan dengan menatap secara benar-benar mata subjek dan menggunakan bahasa yang jelas, sederhana, sesuaiu dengan kebiasaan subjek, serta dengan mengsumsikan adanya suasana bahwaa tiap orang telah melakukan segala sesuatu mengenai hal yang ditanyakan. Namun demikain, ada kemungkinan teknik ini tidsak sesuai denga budaya orang Indonesia.
7. Teknik Tanggapan Acak
Pada teknik tanggapan acak (Campbell dan Joiner, 1973; Reinmuth dan Guerts, 1975 dalan Aaker, Kumar, dan Day, 1995), subjek diminta untuk menjawab satu atau lebih pertanyaan yang dipilih secara acak tanpa menyatakan atau menampakkan pertanyaan mana yang telah dijawabnya. Perlu diingat bahwa pertanyaan-pertanyaan itu memiliki arti atau tujuan yang sama.
E. Surat Pengantar
Pengguanaan kuesioner yang diisi sendiri oleh subjek dan dikirimkan disertai dengan surat pengantar. Untuk itu, peneliti perlu mengemukakan tujuan yang sebenarnya dari penelitian yang dilakukan agar subjek tidak merasa curiga. Pada surat pengantar perlu juga ditunjukkan bahwa kesediaan subjek untuk memberikan tanggapan itu sangat berarti. Cara maupun Fasilitas, bila ada, pengembalian maupun alamat pengembalian serta waktu pengembalian perlu juga dikemukakan.
Bila hasil penelitian yang dilakukan akan dikirimkan kepada subjek, peneliti perlu juga untuk mengemukakan pada surat pengantar. Surat pengantar sebaiknya ditandatangani langsung oleh peneliti, tidak menggunakan stempel tanda tangan untuk memberikan kesan bahwa peneliti menghargai subjek.
Selain hal di atas, Hadi (1992) juga mengemukakan bahwa pada surat pengantar, peneliti harus menghindari penggunaan kata-kata yang egosentris, misalnya: saya. Selain itu, peneliti harus dapat juga menciptakan suasana kerja sama yang sebaik-baiknya dengan subjek melalui surat pengantar itu. Sebagaimana lazimnya, peneliti juga perlu menyampaikan terima kasih pada bagian akhir surat pengantarsuatu kuesioner.
F. Tingkat Pengembalian Kuesioner
Dalam praktik, sebelum pengembalian data dilakukan, peneliti telah menentukan dari berapa subjek data akan diperoleh. Dalam penentuan ju7mlah subjek itu, peneliti seharusnya membuat cadangan untuk mengantisipasi adanya kemungkinan bahwa tidak semua kuesioner yang diadministrasikan kepada subjek diterima kembali oleh peneliti dan hal itu dpat dilakukan dengan menggunakan rumus tertentu.
G. Keunggulan dan Kelemahan
Keunggulannya adalah bahwa lebih murah dan membutuhkan waktu yang lebih sedikit. Kelemahannya adalah hal-hal yang tidak disadari tidak dapat diungkap, besar kemungkinan jawaban-jawaban yang diberikan subjek dipengaruhi oleh keinginan-keinginan pribadinya, ada hal-hal yang tidak dianggap perlu dinyatakan, misalnya hal-hal yang memalukan atau yang dipandang tidak penting untuk dikemukakan, subjek mungkin mengalami kesulitan untuk merumuskan keadaan dirinya sendiri kedalam bentuk bahasa tertulis, ada kecenderungan untuk mengkonstruksi secara logis unsur-unsur jawaban yang dirasa kurang berhubungan secara logis oleh subjek.



Pengertian
(Dikutip dari buku Masri Singarimbun)
Pada penelitian survai, penggunaan kuesioner merupakan hal yang pokok untuk pengumpulan data. Hasil kuesioner tersebut akan terjelma dalam angka-angka, tabel-tabel, analisa astatistik dan uraian serta kesimpulan hasil penelitian. Analisa data kuantitatif dilandaskan pada hasil kuesioner itu.
Tujuan pokok pembuatan kuesioner adalah untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan survai, dan memperoleh informasi dengan reliabilitas dan validitas setinggi mungkin. Mengingat terbatasnya masalah yang dapat ditanyakan dalam kuesioner, maka senantiasa perlu diingat agar pertanyaan-pertanyaan memang langsung berkaitan dengan hipotesa dan tujuan penelitian tersebut.
Kalau variabel-variabel sudah jelas, maka pertanyaan pun menjadi jelas. Ini tentunya berkaitan pula dengan kemampuan teknis pembuatan kuesioner, walaupun titik-tolaknya adalah variabel-variabel yang jelas dan relevan. Sebaliknya, jika variabel-variabel masih kabur dalam pikiran peneliti, peertanyaan-pertanyaan juga akan kabur dan mungkin sekali dimasukkan banyak pertanyaan yang tidak relevan. Kekaburan dan kekacauan tersebut akan menimbulkan masalah yang berlarut-larut pada analisa data dan penulisan hasil penelitian.
Tiap pertanyaan dimaksudkan untuk dipakai dalam analisa. Perlu ditanyakan dalam hati: apakah pertanyaan tersebut diperlukan, apakah pertanyaan tersebut relevan, bagaimana jawaban atas pertanyaan itu dalam tabulasi? Ini perlu ditanyakan karena ada kecenderungan pertanyaan yang dimaksudkan terlalu banyak dan banyak di antaranya tidak terpakai dalam analisa, meskipun telah banyak tenaga dan waktu yang digunakan untuk itu.
Sebelum atau ketika membuat kuesioner, ada baiknya dipelajari kuesioner yang sudah ada, dan relevan dengan topik penelitian yang akan dilakukan. Namun demikian, contoh kuesioner tersebut bukanlah untuk ditiru begitu saja, jika keadaan memungkinkan, sebaiknya didiskusikan dengan peneliti yang melakukannya, karena yang bersangkutan dapat memberitahukan kelemahan dari pertanyaan tertentu dalam kuesioner. Dia dapat memberikan saran, pertanyaan mana yang dapat diperbaiki atau dihilangkan sama sekali.
Dalam satu penelitian sosial, terlibat berbagai cabang ilmu sehingga sangat mungkin hal-hal tertentu kurang dikuasai si peneliti. Karena itu masalah-masalah konsep dan pengukuran, dapat dipecahkan dengan berkonsultasi kepada sarjana lainnya. Untuk menghemat waktu, seminar interen dapat diadakan untuk itu.
Perlu ditambahkan, bahwa data yang terhimpun melalui kuesioner hanyalah merupakan satu dimensi dari penelitian sosial. Kecuali itu perlu disadari bahwa hasil kuesioner senantiasa terbatas, mengingat kompleksnya fenomena sosial dan juga rumitnya motivasi para responden yang diteliti. Untuk memperkaya pengertian peneliti tentang fenomena sosial dan proses sosial, diperlukan pula berbagai informasi lainnya. Di samping data sekunder yang relevan, informasi yang diperoleh dengan cara lain wawancara bebas, observasi berpartisipasi, studi kasus dan lain-lain akan sangat membantu.
1. Isi Pertanyaan
1. Pertanyaan tentang fakta. Misalnya umur, pendidikan, agama, status perkawinan.
2. Pertanyaan tentang pendapat dan siakp. Ini menyangkut perasaan dan sikap reponden tentang sesuatu.
3. Pertanyaan tentang informasi. Pertanyaan ini menyangkut apa yang diketahui oleh responden dan sejauh mana hal tersebut diketahuinya.
4. Pertanyaan tentang persepsi diri. Responden menilai perilakunya sendiri dalam hubungannya dengan yang lain. Misalnya seringnya kunjungan sosial yang dilakukannya atau pengaruh terhadap orang lain.
2. Beberapa Cara Pemakaian Kuesioner
1. Kuesioner digunakan dalam wawancara tatap muka dengan responden. Cara ini lazim kita lakukan.
2. Kuesioner diisi sendiri oleh kelompok. Misalnya seluruh mahasiswa dalam satu kelas dijadikan responden dan mereka mengisi kuesioner secara serentak.
3. Wawancara melalui telepon. Cara ini sering dilakukan di Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya, tetapi tidak lazim di negara-negara berkembang. Prosedur ini murah daripada wawancara tatap muka dan adakalanya orang tidak bersedia diwawancara melalui telepon.
4. Kuesioner diposkan, dilampiri amplop yang disertai perangko, untuk dikembalikan oleh responden setelah diisi. Cara ini dapat dilakukan untuk kuesioner yang pendek dan mudah dijawab, tetapi mungkain cukup besar proporsi yang tidak dikembalikan oleh responden



3. Jenis Pertanyaan
1. Pertanyaan tertutup. Kemungkinan jawabannya sudah ditentukan sudah ditentukan terlebih dahulu dan responden tidak diberi kesempatan memberikan jawaban lain.
Contoh: Apakah Ibu pernah mendengar tentang transmigrasi?
1. Pernah 2. Tidak pernah
1. Pertanyaan terbuka. Kemungkinan jawabannya ditentukan terlebih dahulu dan responden bebas memberikan jawaban.
Contoh: Menurut pendapat Ibu, apakah masalah yang paling penting bagi wanita di kota?
2. Kombinasi tertutup dan terbuka. Jawabannya sudah ditentukan tetapi kemudian disusul dengan pertanyaan terbuka.
Contoh: Apakah Ibu pernah mendengar tentang cara mengatasi transmigrasi?
1. Pernah 2. Tidak Pernah
(Jika pernah) Coba Ibu sebutkan bagaimana cara-caranya?
Perlu diingat bahwa pertanyaan kombinasi tertutup dan terbuka diatas mengandung kelemahan. Untuk memudahkan pengkodean, pertanyaan tersebut lebih baik dibuat menjadi dua nomor.
3. Pertanyaan semi terbuka. Pada pertanyaan semi terbuka, jawabannya sudah tersusun tetapi masih ada kemungkinan tambahan jawaban.
Contoh: Jenis bunga yang Ibu suka:
Mawar 1
Melati 2
Anggrek 3
Lain-lain:…………….(Sebutkan)

3. Susunan Pertanyaan
Pertanyaan dikelompokkan sesuai dengan tujuan penelitian, dimulai dengan identitas yang berisi:
1. Nama responden.
2. Tempat tinggal.
3. Nama pewawancara.
4. Tanggal wawancara.
Ini disusul dengan pertanyaan tentang ciri-ciri demografi: umur, status kawin, dan jumlah anak. Sensus keluarga biasanya dibuat dibagian muka. Ini diperlukan untuk memilih responden. Namun demikain, ada juga penelitian yang taidak memakai sistem cara pemilihan demikian dan tidak memerlukan kuesioner rumah tangga. Misalnya penelitian: “Hubungan antara karakteristik pribadi, kepuasan kerja dan efektivitas mengajar seorang dosen”.
Terserah kepada peneliti bagaimana mengelompokkan pertanyaan itu dilakukan. Yang perlu diperhatikan ialah urutan yang cukup runtut dan juga di mana ditempatkan pertanyaan yang sensitif. Pertanyaan yang sensitif tidak ditempatkan dibagian muka karena dapat segera mempengaruhi suasana wawancara. Biasanya pertanyaan semacam ini ditempatkan di belakang, tetapi bukan pada penutup supaya wawancara tidak diakhiri dengan perasaan kurang enak.

Bentuk Fisik Kuesioner
Kuesioner sebaiknya rapi, jelas dan mudah digunakan. Menyusun kuesioner yang baik diperlukan lebih banyak waktu tetepi secara keseluruhan akan menghemat waktu. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Ukuran kertas dan jenis kertas.
2. Diisi bolak-balik atau tidak.
3. Pembagian ruangan tidak sempit. Sisi kiri dan kanan cukup longgar.
4. Nomor urut pertanyaan. Nomor urut dari mula sampai akhir atau tiap kelompok mempunyai nomor sendiri. Sistem nomor urut dari mulai sampai akhir.
5. Penggunaan huruf besar, huruf kecil dan huruf miring (kalau ada).
6. Tanda panah dan kotak pertanyaan.
7. Kotak kolom. (Pembuatan kotak kolom akan menghemat waktu dan tenaga pada tahap berikutnya).
8. Untuk menghindarkan salah ambil, kuesioner dibuat berlainan warna untuk responden pria dan wanita.
Kotak kolom bersama nomornya pada sisi kanan kiri diperlukan untuk menentukan nomor kolom dan jumlah kartu komputer yang digunakan. Sistemnya akan berbeda apabila tidak memakai komputer.
Pretest
Pretest diadakan untuk menyempurnakan kuesioner. Melalui pretest akan diketahui berbagai hal, yaitu apakah pertanyaan tertentu perlu dihilangkan, apakah pertanyaan tertentu perlu ditambah, apakah tiap pertanyaan dapat dimengerti dengan baik oleh responden dan apakah pewawancara dapat menyampaikan pertanyaan tersebut dengan mudah, apakah urutan pertanyaan perlu diubah, apakah pertanyaan yang sensitif dapat diperlunak dengan mengubah bahasa, barapa lama wawancara memakan waktu.
Kalau karena alasan tertentu kuesioner tidak dapat diperpendek dan memakan waktu lebih dari 3 jam, maka kuesioner dan wawancara dapat dibagi atas dua tahap, Taiap responden diwawancarai dua kali.
Lamanya wawancara perlu diketahui untuk perencanaan. Kalau umpamanya, ditaksir rata-rata dua kuesioner dapat diselesaikan tiap hari, maka banyaknya asisten lapangan yang diperlukan dan berapa lamanya mereka bekerja di lapangan, dapat ditentukan berdasarkan perhitungan tersebut.
Untuk penentuan jumlah pretest tidak ada patokan yang pasti dan tergantung pula pada homogenitas responden. Untuk pretest biasanya sebanyak 30-50 kuesioner yang sudah mencukupi dan dipilih responden yang keadaanya kurang lebih sama dengan responden yang sesungguhnya akan diteliti. Pretest dilaksanakan diluar penelitian.
Untuk mengetahuai apakah jawaban yang diperoleh sesuai dengan yang dimaksudkan, hasil pretest ditabulasi. Dari hasil tabulasi diketahui pertanyaan nomor berapa yang sekiranya perlu diperbaiki.
Pedoman Pengisian Kuesioner
Pedoman pengisian kuesioner merupakan pegangan bagi pewawancara. Dalam pedoman pengisisan kuesioner, tiap pertanyaan yang diajukan diberi keterangan yang jelas dan rinci, juga dicantumkan jawaban yang diharapkan, terutama pada pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka.


Penggunaan Bahasa
Kuesioner di Indonesia hampir seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini perlu ditinjau karena kebanyakan responden terutama dipedesaan tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik, dan pewawancara tidak dapat diharapkan menerjemahkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Distorsi-distorsi dalam pengertian mudah terjadi, begitu puila dapat timbul perasaan yang kurang enak bagi responden karena pemilihan kata yang kurang tepat. Wawancara juga dapat tersendat-sendat karena pewawancara kurang lancar menerjemahkan di hadapan responden.
Pada masyatakat di mana pemakaian bahasanya berhubungan dengan pelapisan sosial, perlu diperhatikan penggunaan bahasa yang tepat. Pusat Penelitian Kependudukan UGM Yogyakarta selama ini berusaha menerjemahkan kuesioner tersebut kedalam bahasa daerah. Apabila perlu dianggap pada waktu coaching, asisten lapangan disuruh menerjemahkan kuesioner ke dalam bahasa daerah dan kemudian hasilnya didiskusikan bersama. Apabila karena alasan waktu dan kuesioner tidak mungkin diterjemahkan, maka coaching bahasa tersebut setidaknya dapat dilakukan dan pewawancara mempunyai satu eksemplar kuesioner dalam bahasa daerah.










DAFTAR PUSTAKA


- Hadi Sutrisno. Metodologi Research. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada, 1981
- Singarimbun Masri. Metode Penelitian Survai. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada, 1983
- Aribonang Lerbin, ”Riset Pemasaran”. Ghali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih atas kunjungan anda.