Sabtu, 07 Mei 2011

observasi

OBSERVASI

A. Pengertian

I. Menurut Lerbin R. Aritonang R.
Menurut Hadi (1992), sebagai metode ilmiah, observasi merupakan pengamatan dan pencatatan yang dilakukan secara sistematis terhadap sesuatu yang di selidiki. Shaughnessy dan Zechmeister (1994) juga mengemukakan bahwa observasi ilmiah dilakukan pada kondisi yang sudah didefinisikan secara tepat, dengan cara yang sistematis dan objektif, serta pelaksanaan pencatatan dilakukan dengan hati-hati. Jadi observasi yang dimaksudkan pada metodologi penelitian atas suatu variable yang dilakukan secara sistematis dan objektif dalam kondisi yang didefinisikan secara tepat, serta hasilnya dicatat dengan hati-hati.
Dari pengertian mengenai observasi di atas kita dapat mengetahui bahwa tidak semua observasi bersifat ilmiah. Dalam kaitan itu, Shaughnessy dan Zechmeister (1994) mengemukakan gambaran mengenai perbedaan observasi yang dilakukan ilmuwan dan non ilmuwan berikut ini. Nonilmuwan mungkin melakukan observasi secara kasual dan sering tidak menyadari bias pribadi dan situasional yang mungkin mempengaruhi proses observasi yang dilakukannya. Nonilmuwan juga jarang melakukan pencatatan secara formal mengenai hasil observasinya, tetapi lebih bergantung pada daya ingatnya.
Menurut Tull dan Hawkins (1993), minimal ada tiga kondisi yang harus dipenuhi untuk melakukan observasi. Pertama, data mengenai variable yang diobservasi harus dapat diakses melalui observasi. Kedua, perilaku yang terjadi didalam observsi harus terjadi secara berulang-ulang, sering atau dapat diperdiksi. Ketiga, kejadian yang menjadi variable penelitian harus mencakup rentang waktu yang singkat. Ini didasarkan pada pertimbangan tenaga dan biaya.
II. Menurut DR.Kartini Kartono
Observasi ialah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena social dan gejala-gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan
Observasi ialah pengujian secara intensional atau bertujuan sesuatu hal, khususnya untuk maksud pengumpulan data. Merupakan suatu verbalisasi mengenai hal-hal yang diamati. (James, P. Chaplin, 1981).
Tujuan observasi : mengerti cirri-ciri dan luasnya signifikansi dari interrelasi elemen-elemen tingkah laku manusia pada fenomena social yang serba kompleks, dalam pola-pola kultur tertentu.
Menurut M. Jehoda observasi bisa dijadikan alat bagi penelitian ilmiah jika memenuhi kriteria sebagai berikut :
1) Diabdikan pada pola dan tujuan penelitian yang sudah ditetapkan.
2) Direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis dan tidak secara kebetulan.
3) Dicatat dan dikaitkan secara sistematis dengan proporsi-proporsi yang lebih umum, dan tidak didorong oleh rasa ingin tahu belaka.
4) Dicek dan dikontrol validitas, reliabilitas dan ketelitiannya.

Sedangkan Good C.V. mencirikan observasi sebagai teknik pengumpulan data dalam metodologi riset dengan sifat-sifat sebagai berikut :
1) Mempunyai arah dan tujuan yang khusus
2) Observasi ilmiah tidak dilakukan secara untung-untungan dan sesuka hati dalam usaha mendekati situasi atau obyeknya.
3) Observasi sifatny kuantitatif yaitu mencatat sejumlah peristiwa tentang tipe-tipe tingkah laku social tertentu
4) Observasi melakukan pencatatan dengan segera, secepatnya,tidak menyandarkan diri pada kekuatan ingatan
5) Menuntut adanya keahlian dilakukan oleh orang-orang yang terlatih untuk tugas ini.
Mengenai pendapat Good ini ada golongan yang keberatan terhadap beberapa hal khususnya mengenai ciri untuk memperoleh data sebanyak mungkin. Sebab ciri kuantitatif ini sering dihindari karena pada umumnya memerlukan pembiayaan dan energi yang banyak. Sedangkan pencatatan dengan segera ada kalanya kurang tepat.
III. Menurut Prof.DR. Hadari Nawawi
Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.
Observasi langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa.
Observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diselidiki. Misalnya diamati melalui film.
Syarat untuk menghimpun data secara efektif adalah:
1. Observer harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai obyek yang akan diamati
2. Observer harus memahami tujuan umum dan tujuan khusus dari penelitian yang dilaksanakan
3. Tentukan cara dan alat yang dipergunakan dalam mencatat data
4. Tentukan kategori pencatatan gejala yang diamati
5. Observasi harus dilakukan secara cermat dan kritis
6. Pencatatan setiap gejala harus dilakukan secara terpisah
7. Pelajari dan latihlah cara-cara mencatat sebelum melakukan observasi

Menurut Hartini :

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik pengumpulan data/fakta yang cukup efektif untuk mempelajari suatu sistem. Observasi adalah pengamatan langsung para pembuat keputusan berikut lingkungan fisiknya dan atau pengamatan langsung suatu kegiatan yang sedang berjalan.

Mengamati Perilaku Para Pembuat Keputsan
Jenis informasi yang dicari saat mengamati perilaku para pembuat keputusan berikut lingkungan fisiknya adalah :
a. Mengumpulkan pandangan-pandangan mengenai apa yang sebenarnya
b. dilakukan para pembuat keputusan.
a. Melihat secara langsung hubungan yang ada antara pembuat keputusan dengan
c. anggota organisasional lainnya.
a. Mengamati pengaruh yang ditimbulkan pembuat keputusan terhadap unsurunsur
d. fisik ruang kerja mereka.
a. Memahami pesan-pesan yang dikirim lewat kontrolnya (misalnya cara
e. berpakaian, posisi meja)

Observasii membantu menegaskan atau menolak serta melihat kembali tentang apa saja yang telah ditemukan lewat wawancara, kuesioner. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam mengamati kegiatan-kegiatan pembuat keputusan seorang manajer :
a. Putuskan apa yang diobsevasi (kegiatan).
b. Putuskan pada level berapa kegiatan-kegiatan konkret tersebut diobservasi.
c. Menciptakan kategori-kategori yang memadai untuk menangkap kegiatan-kegiatan utama.
d. Menyiapkan skala, daftar nama atau materi-materi lainnya yang tepat untuk observasi.
e. Memutuskan kapan melakukan observasi.

Setiap pendekatan terhadap kapan harus melakukan observasi memiliki masingmasing
kelebihan dan kekurangannya. Sampling waktu memungkinkan penganalisis
menyusun interval-interval tertentu untuk mengamati kegiatan para manajer.
Sedangkan sampling peristiwa menampilkan pengamatan suatu perilaku integral
menurut konteks alamiahnya.




IV. PENGERTIAN OBSERVASI menurut H.M. Martini
Observasi secara singkat dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala pada obyek penelitian. Unsur yang tampak itu disebut data atau informasi yang harus diamati dan dicatat secara benar dan lengkap.

INSTRUMEN PENCATATAN HASIL PENGAMATAN
Untuk pencatatan hasil pengamatan itu dapat digunakan instrument sebagai berikut:
1. Catatan Anekdot
Dalam melakukan pengamatan terhadap suatu keadaan/situasi, kejadian atau peristiwa yang berhubungan dengan masalah penelitian, setiap peneliti harus mampu mengidentifikasi munculnya unsure-unsur dari gejala-gejala dalam variable penelitiannya.
2. Catatan berkala
Catatan ini tidak berbeda dengan catatan anekdot seperti yang telah diuraikan diatas. Bentuknya adalah lembaran-lembaran kertas putih atau buku catatan biasa.
3. Daftar cek
Pencatatan anekdot dan catatan berkala sulit pelaksanaanya dan hasilnya sulit pula untuk di olah. Hasil yang dicapai tidak seragam, dapat menimbulkan kekeliruan. Usaha untuk memperbaiki instrument pencatat data seperti itu dilakukan dengan membuat instrument untuk mencatat data yang disebut dengan daftar cek (check list).
4. Skala nilai
Penggunaan daftar cek untuk menghimpun data dalam observasi,seringkali belum memuaskan seroang peneliti. Untuk itu dilakukan usaha penyempurnaan dan pengembangan menjadi alat pengumpul data yang disebut skala nilai.

B. Jenis Observasi
Menurut Lerbin R. Aritonang R.
Ada beberapa dasar yang dapat digunakan untuk membedakan observasi sebagaimana di kemukakan berikut ini:
• Pertama, berdasarkan latar belakang kondisi pelaksanaanya, observasi dibedakan menjadi observasi secara alamiah dan observasi yang dimodifikasi/dibuat. Observasi yang alamiah dilakukan dalam keadaan yang sebenarnya, tanpa adanya intervensi atau usaha pengamat untuk memodifikasi kondisi yang sebenarnya. Misalnya, untuk mengetahui bagaimana konsumen membandingkan harga sebelum membeli suatu produk, peneliti mengobservasi para pembeli yang ada di supermarket. Sebenarnya hal ini dapat juga di lakukan dengan membuat toko stimulasi disuatu ruangan dan meminta konsumen untuk berperilaku seolah-olah ia sedang berada di supermarket. Namun demikian, latar belakang kondisi untuk contoh yang belakangan ini tidak alamiah sehingga data yang diperoleh menjadi kurang mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
• Kedua, berdasarkan tujuannya observasi dibedakan menjadi observsi terbuka dan observasi tertutup. Pada observasi tertutup, pengamat melakukan pengamatan tanpa diketahui oleh orang yang diamati. Sedangkan pada observasi terbuka, antara pengamat dan orang yang diamati sama-sama dapat melihat satu sama lain.
• Ketiga, berdasarkan strukturnya obersvasi dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur. Pada observasi terstruktur, pengamat mengetahui secara tepat dan rinci sebelumnya aspek-aspek apa saja yang harus diobservasi atau dicatat pada waktu observasi berlangsung. Sebaliknya pada observasi tidak terstruktur, pengamat tidak mengetahui secara tepat dan rinci sebelumnya aspek-aspek apa saja yang harus dirinci.
• Keempat, berdasarkan alat pengadministrasiannya, observasi dibedakan menjadi observasi yang dilakukan oleh manusia dan observasi yang dilakukan secara mekanis, yaitu dengan menggunakan alat Bantu seperti kamera.
• Kelima, berdasarkan cara pencatatannya, observasi dibedakan menjadi observasi dengan deskripsi verbal, daftar periksa, dan lain sebagainya. Pada deskripsi verbal, semua hasil pengamatan ditulis dalam bentuk uraian tertulis, kalimat. Pada daftar periksa, semua atau sebagian besar aspek yang akan diobervasi telah diketahui dan dicatat sehingga pengamat hanya memberi tanda periksa atau centang pada kategori yang telah disediakan.
Keenam, Berdasarkan partisipasi yaitu partisipan dan non partisipan
Menurut Kartini Kartono
Menurut cara pelaksanaanya dan tujuannya, observasi dapat dibedakan dalam 3 kelompok, yaitu :
1) Observasi Partisipatif
2) Observasi sistematis
3) Observasi eksperimental



1. Observasi Partisipatif
Pada prosedur teknik obsrevasi jenis ini, observer atau pengamat benar-benar ikut mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para subyek yang di observasi. Dengan kata lain, observer ikut aktif berpatisipasi dalam aktivitas, di dalam konteks social ang tengah diselidikinya. Teknik ini pada umumnya digunakan dalam penelitian eksprolatif: misalnya pada riset atau survey terhadap masyarakat suatu suku bangsa atau terhadap unit-unit social yang berjumlah besar.
Observasi partisipatif merupakan lawan dari observasi non pastisipatif, dimana observer tidak ikut berpatisipasi dalam kegiatan-kegiatan para subyek yang diamati. Observasi pastisipatif ini pada mulanya banyak dipakai dalam penelitian-penelitian di bidang antropologi. Lambat laun teknik observasi partisipatif ini ditetapkan juga pada penelitian terhadap kesatuan-kesatuan social lainnya.

Agar observasi partisipatif bisa sukses, observer perlu memperhatikan factor-faktor sebagai berikut:
a. materi apa yang harus diobservasi
b. bilamana dan bagaimana cara pencatatan yang baik
c. memelihara hubungan baik antara observer dengan subyek yang diobservasi
d. mengetahui batas intensitas dan ekstensitas partisipasi

Mengenai materi yang hendak diamati, hendaknya diteliti cirri-ciri dan kekhasan sifatnya, umpamanya:interaksi para subyek, konteksnya, kontinu atau memakai interval, kekhususan apa yang menyolok, dan apakah terjadi penyimpangan-penyimpangan. Hendaknya bisa ditegaskan pula batas antara data factual dan data interpretative.

Mengenai waktu dan bentuk pencatatan, supaya dicari waktu yang “favourable” dan paling mengena. Hendaknya dicari saat-saat psikologis yang baik. Pencatatan di tempat merupakan cara yang paling baik. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya penyelewengan dari pengamatan yang berkemampuan terbatas, dan mencegah pemalsuan data sebagai akibat limitasi dari ingatan. Sungguhpun demikian, pencatatan “on the spot” ada kalanya sukar atau tidak dapat dilakukan, disebabkan oleh beberapa halangan, yaitu antara lain:
a. bisa menimbulkan kecurigaan dan rasa kurang/tidak senang pada pihak observee
b. bila terganggu situasinya, maka iklim spiritual dan relasi pribadi yang baik harus diperbaiki lebih dahulu
c. observasi menjadi kurang teliti karena observer harus memecah perhatian untuk ikut berpatisipasi, mengadakan observasi, dan sekaligus melakukan pencatatan.

Dalam hal intensitasi dan ekstensitas dari partisipasi, bisa dibedakan beberapa bentuk partisipasi, yaitu:
1. partisipasi parsiil/ sebagian;yaitu ikut mengambil bagian dalam beberapa kegiatan social saja
2. partisipasi penuh, dengan ikut serta pada semua kegiatan social
3. partisipasi intensif, bila observasi ikut terjun aktif sepenuh-penuhnya dalam semua kegiatan social
4. partisipasi permukaan atau surface participation, jika observer hanya berpartisipasi secara minimal saja

Pada umumnya keberhasilan observasi partisipatif itu sangat bergantung pada factor waktu yang cukup lama. Hal ini sangat diperlukan untuk melancarkan komunikasi, dan menciptakan iklim yang menguntungkan bagi observasi. Masing-masing obervasi yang disebut bagian atas itu mempunyai kebaikan dan kelemahannya sendiri hal ini sangat bergantung pada kondisi dan situasinya.

2. Observasi sistematis atau observasi berstruktur.

Observasi sistematis sering disebut pula sebagai Observasi berstruktur atau Observasi berkerangka. Ciri utamanya ialah : mempunyai struktur atau kerangka yang jelas, didalamnya berisikan semua factor yang diperlukan, dan sudah dikelompokan dalam kategori-kategori dan tabulasi-tabulasi tertentu. Juga dicantumkan di dalamnya cirri-ciri khusus dari setiap factor secara kategoris untuk memudahkan analisa. Apabila dalam suatu observasi tidak ditemui sistematika secara kategoris dan strukturnya, maka observasi ini digolongkan dalam observasi non –sistematis.
Oleh karena dalam jenis observasi sistematis ada kategori-kategori permasalahan, maka materi observasi mempunyai scope ( isi, luas, situasi dan wilayah penelitian ) yang lebih sempit dan lebih terbatas. Akan tetapi dengan begitu observasinya bias lebih terarah, sedang pencatatan hasil observasi partisipatif menjadi lebih teliti. Materi yang diteliti itu bukannya berupa seluruh segi kehidupan dari masyarakat, seperti halnya pada observasi yang umumnya digunakan dalam riset eksploratif. Maka untuk melaksanakan pencatatan-pencatatan observasi sistematis orang sering memakai alat-alat pencatat yang serba praktis dan sederhana penggunaannya, seperti lis pengecek / check list, rating scale, dan alat-alat lainnya.
Pada umumnya observasi sistematis ini didahului oleh suatuobservasi pendahuluan. Yaitu dengan observasi partisipatif, guna mengadakan penemuan dan perumusan masalahnya dalam usaha-usaha yang eksploratif sifatnya. Sekaligus orang berusaha menyusun kategori-kategori masalah. Sering kali observasi sistematis itu dibantu dengan alat-alat pencatat mekanis ( mechanical devices ) seperti film, kamera foto, pita perekam, tape recorder dan sebagainya. Sebab dari observasi sistematis ini dituntut adanya ketelitian dan kecermatan yang tinggi, hasil kuantitatif yang cukup banyak dan hasil kualitatif yang tinggi pula. Oleh karena itu observasi sistematis memerlukan lebih banyak persiapan yang cermat dan cukup kompleks.
Lagi pula untuknya dibutuhkan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu observasi jenis ini biasanya hanya dilakukan dalam jangka waktu yang pendek. Apabila pada observasi jenis ini orang menggunakan :

1. Alat-alat bantu pencatatan yang modern ( Modern mechanical devices )
2. Mempekerjakan jumlah observer yang lebih banyak, maka pasti akan diperoleh data sebanyak-banyaknya dalam waktu yang relative pendek dan terbatas.

Kebaikan penggunaan alat-alat mekanis tadi ialah : pada setiap saat pesawat tersebut bias berputar kembali. Jika sekiranya diperlukan untuk penganalisaan lebih teliti. Hanya saja pelaksanaan sedemikian ini cukup mahal, memerlukan pembayaran cukup besar.
Dilain pihak, observasi sistematis ini bias menimbulkan beberapa kesulitan, antara lain ialah :
1) Hubungan antara observer dengan observer bisa menjadi kaku, dan suasananya jadi kikuk
2) Observee bertingkah laku artifisil dibuat-buat, overacting, kaku dan lain-lain. Karena menyadari kalau ia tengah diobservasi. Untuk menghindari kesulitan-kesulitan ini antara lain : orang lalu menggunakan layer kaca searah atau “ one way screen”, yaitu berupa kaca tembus yang hanya bisa dilihat atau ditembus dari satu arah saja ( berlangsung dikamar studi dan laboratorium )
3) Patut pula diusahakan agar supaya para observase tidak berkeberatan menerima perilaku observase yang menggunakan macam-macam peralatan guna mengadakan pencatatan. Untuk memperoleh bantuan dan kerjasama ini ada baiknya jika sebelum melakukan observasi yang sebenar-benarnya, observee ( subjek yang akan diamati ) sudah pernah hadir sesekali atau beberapa kali dalam situasi semacam yang hendak diteliti itu.

3. Observasi Eksperimental.
Observasi jenis ini dilakukan secara non-partisipatif, namun berstruktur dan sistematis. Tujuan observasi ialah untuk mengetahui adanya perubahan-perubahan, timbulnya variable-variabel dan gejala-gejala kelainan, sebagai satu situasi ekperimental yang sengaja diadakan untuk bisa diteliti. Kondisi, situasi serta persyaratan bisa diubah-ubah dan dikendalikan, sehingga tercipta suasana yang menguntungkan guna melaksanakan percobaan atau eksperimen. Pengaturan dan pengendalian terhadap semua kondisi dan factor itu perlu sekali guna mengurangi atau menyadari timbulnya variable-variabel yang tidak diharapkan, sehingga mempengaruhi eksperimen dan mengarah pada segi-segi negatif.
Observasi eksperimental disebut sebagai observasi dalam situasi test. Pengamatan dilakukan dengan amat teliti untuk kemudian dianalisa dan dihitung dengan kecermatan yang tinggi. Tempat pelaksanaannya pada umumnya ialah dilaboratorium klinik-klinik khusus, ruang studi universitas dan lain-lain.
Cronbach dalam bukunya “ Essential of Physcological Testing “ menggemukakan cirri-ciri observasi eksperimental sebagai berikut :
1) Observer dihadapkan pada situasi-perangsang yang diciptakan secara seseragam mungkin untuk semua observasi.
2) Situasinya dibuat begitu rupa sehingga bisa diubah-ubah guna memungkinkan timbulnya variasi-variasi tingkah laku atau aktivitas yang beraneka ragam yang jelas bisa diamati oleh observer.
3) Situasinya dibuat sedemikian rupa, sehingga observase tidak mengetahui maksud yang sebenarnya dari observasi namun demikian, situasinya hendaknya bisa diterima dan dimaklumi oleh para observase.
4) Dibantu dengan alat-alat pencatat yang cukup, guna mengadakan pencatatan yang diteliti sebab data yang tepat itu memudahkan pengolahan selanjutnya.
Dalam observasi eksperimental ini variabel-variabel tertentu bisa diadakan atau ditimbulkan dengan sengaja. Data harus cukup banyak jumlahnya, sebagai hasil dari ulangan-ulangan yang terus¬menerus --tanpa atau dengan pengubahan stimulus dan kondisi¬nya - dan bisa dikendalikan, serta dikontrol. Untuk observasi eksperimental ini pada umumnya alat-alat pencatat, kondisi serta prosedur yang digunakan telah distandardisasikan. Olel1 ciri-cirinya yang cermat-teliti secara minutius itu, observasi eks¬perimental dianggap sebagai cara penelitian yang relatif murni atau sempurna.
Perbedaan antara observasi partisipatif dengan observasi eksperimental ialah sebagai berikut: pada observasi partisipatif, server (selaku partisipan dan selaku observer) tidak bisa atai Idak mampu mengendalikan situasinya. Situasi dan kondil dial semuanya ada di lunar kontrol, dan di luar pengendalian ,Server. Oleh karena ini, maka peneliti hanya ikut hanya dalan rus dinamika dan kompleksitas situasi sosialnya.
Pada observasi eksperimental yang biasanya dilakukan dalarr tboratorium atau ruang studi khusus untuk melakukan eks eimen (percobaan) adalah sebaliknya. Observer secara konkrii tampu mengendalikan situasi dan kondisi-kondisinya untuk enimbulkan variabel-variabel tingkah laku (yang sengaja di rangsang timbulnya), agar gejala-gejalanya bisa diteliti dan diperbandingkan.
Kebaikan observasi eksperimental ini antara lain ialah: orang tidak perlu menunggu-nunggu terlalu lama timbulnya suatu tingkah laku; misalnya gejala-gejala yang jarang muncul dalam keadaan normal. Sebab dengan stimulus dan kondisi yang sengaja ciptakan itu bisa ditimbulkan gejala-gejala yang diharapkan. Paalnya gejala-gejala frustrasi. ketekunan, reaksi-agresif, reaksi¬resif, reaksi proyektif, dan lain-lain.
Mengingat bahwa dalam zaman modern sekarang ini peranan riset dan survey semakin penting demi kemajuan ilmu pengetahuan demi usaha memajukan tingkah kesejahteraan umat manusia, maka keterampilan menerapkan observasi ekspernental dan eksperimen (kedua-duanya merupakan teknik pengurnpulan data dalam riset dan survey yang amat penting) merupakan se¬gian dari persyaratan yang diperlukan.

C. CATATAN MENGENAI OBSERVSI TERKONTROL DAN TIDAK TERKONTROL
Menurut Lerbin R. Aritonang R.
Agar pelaksanaan maupun hasil observasi dapat menjadi lebih baik dan akurat, sesuai dengan tujuan penelitian yang dilakukan, ada beberapa hal yang perlu dipedomani. Pedoman yang dikemukakan berikut ini merupakan rangkuman dari pedoman observasi yang dikemukakan oleh Brandt.
a. Pertama, peneliti perlu memperoleh sebelumnya pengetahuan mengenai apa atau variable apa yang akan diobservasi. Hal ini dapat dilakukan dengan lebih dulu mencari dan mempelajari bahan yang berkaitan dengan variable yang akan diobservasi. Jika observasi juga dilakukan oleh orang lain, maka peneliti harus memberikan pelatihan atau pengarahan khusu kepada pengamat mengenai variable yang akan diobservasi.
b. Kedua, peneliti perlu menyelidiki tujuan-tujuan umum maupun khusus dari penelitiannya untuk menentukan apa yang harus diobservasi. Selanjutnya, atas dasar itu, dispesifikasikan butir-butir atau hal-hal yang harus diobservasi, termasuk definisi operasionalnya sehingga memudahkan pencatatan hasil observasi yang dilakukan. Dengan demikian, pengamat akan memiliki pedoman yang jelas untuk menentukan apa yang seharusnya dicatat dan tidak dicatat pada pelaksanaan suatu observasi.
c. Ketiga, peneliti perlu membuat suatu cara untuk mencatat hasil-hasil observasi, misalnya dengan menggunakan daftar periksa, steno, dan lain sebagainya. Dalam kaitan itu, pengamat harus menguasai dengan baik hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan alat tersebut.
d. Keempat, peneliti perlu mengadakan dan membatasi dengan tegas macam-macam tingkat kategori yang akan digunakan untuk pencatatan. Untuk keaktifan konsumen misalnya, apakah cukup menggunakan kategori berupa aktif dan tidak aktif atau menggunakan kategori yang lebih banyakm misalnya sangat aktif, aktif, sedang, tidak aktif, dan sangat tidak aktif.
e. Kelima, peneliti perlu melakukan observasi dengan secermat-cermatnya dan sekritik-kritiknya. Kecermatan dan kekritisan itu umumnya berkembang sejalan dengan pengalaman pengamat.
f. Keenam, peneliti mencatat tiap-tiap gejala secara terpisah dan sesegera mungkin. Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan analisi dan agar tidak salah mencatat karena lupa.
g. Ketujuh, peneliti perlu untuk memutuskan apakah pengamat diperkenankan juga untuk menduga dan menginterpretasikan variable yang diobservasikan atau hanya boleh mencatat hal yang secara nyata diobservasinya. Jika pengamat diperkenankan melakukan hal itu, maka batasannya perlu dispesifikasikan. Hal ini dimaksudkan agar reabilitas observasi yang dihasilkan lebih tinggi.
h. Kedelapan, kaitkan hasil observasi dengan kemungkinan analisisnya. Jika diperlukan, peneliti dapat melakukan simulasi dengan melakukan observasi terhadap variable yang akan diteliti pada sejumlah subjek yang sedikit dan kemudian hasilnya dianalisis. Hal itu dimaksudkan agar hasil observasinya sesuai dengan kebutuhan data yang akan dianalisis dan tidak terjadi pengumpulan data yang sebenarnya tidak diperlukan.
i. Kesembilan, jika diperlukan, gunakan symbol-simbol tertentu yang sederhana, tidak mendua arti guna memudahkan pengamat dalam mecatat hasil observasinya.
j. Kesepuluh, bila memungkinkan, gunakan alat bantu untuk mencatat atau merekam hal-hal yang akan diobservasi untuk kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan analisis data.
k. Kesebelas, identifikasi hal-hal yang mungkin terjadi di luar observasi yang direncanakan dan bagaimana cara untuk menganalisisnya.

Menurut Kartini Kartono
Dalam observasi eksperimental orang dengan sengaja bisa me ngubah kondisi-kondisinya dan mengulangi berkali-kali istiwanya, agar bisa ditimbulkan variabel-variabel tertentu. ngan sengaja pula proses gejala-gejalanya diusahakan agar bisa :endalikan dan dikontrol. Sehubungan dengan inilah maka reservasi eksperimental ini disebut pula sebagai observasi ter¬control.
Demi kecermatan observasi, maka digunakan alat-alat bantu berupa pesawat-pesawat pencatat, film, alat potret, alat perekam, dan pesawat-pesawat mekanik lainnya. Demikian pula prosedur pelaksanaannya pada umumnya telah dilakukan. Oleh karena itu observasi macam ini banyak dilakukan dalam laborarotium¬-laboratorium ilmiah, klinik-klinik khusus, ruang-ruang penelitian ilmiah di perguruan linggi yang mengadakan penyelidikan ter¬hadap gejela-gejala kealaman dan fenomena sosial yang sederhana (tidak kompleks) dengan jalan pengetesan secara cermat.
Kita memaklumi, bahwa data sosial yang konkrit, yang diper¬oleh dari kehidupan sehari-hari itu sifatnya sangat kompleks, tidak mudah diukur, dan hakekatnya sukar dimengerti. Situasi kehidupan manusia yang riil, yang bisa diteliti dalam kondisi terkontrol atau dalam kondisi artifisiil (seperti dimaksudkan dalam kondisi atau situasi laboratorium dan ruang-ruang studi ilmiah) itu sangat jarang adanya. Maka observasi gejala sosial itu benar-benar berlangsung di tengah kesibukan dan dinamika setting-kultural, di tengah matrix-sosial yang riil. Sehubungan dengan ini, kondisi dan situasinya biasanya tidak bisa di¬kontrol.
Maka observasi terhadap gejala sosial di tengah kesibukan hidup sehari-hari itu disebut• pula sebagai observasi tidak ter¬kontrol, karena kondisi dan situasinya tidak bisa dikendalikan oleh para observer, untuk kemudian dilakukan pengontrolan terhadapnya. Untuk keperluan observasi ini orang tidak mengguna¬kan pesawat-pesawat presisi guna mengecek ketelitian gejalanya. Lagi pula. akal budi manusia belum mampu menciptakan alat-alat presisi untuk mengecek gejala-gejala sosial secara eksak. Maka untuk mepelajari fenomena sosial orang menggunakan teknik observasi partisipatif; sungguhpun teknik ini mengandung banyak kelemahannya pula yang akan diuraikan lebih lanjut.
Dalam observasi terhadap gejala-gejala sosial itu diperlukan sekali sikap apresiatif (mampu menghargai) pada pihak observer; yaitu sikap apresiatif terhadap segenap konteks sosio-kultural, dengan mana ia-mampu mengerti kedudukan dan hakekat sub¬unit sosial (faktor-faktor, variabel-variabel, segmen-segmen, onderdil-onderdil sosial. dan lain-lain) di dalam. totalitas konteks¬nya. Sikap apresiatif ini diperlukan sekali urtuk mengurangi jarak mental dan jarak social diantara observe dan para observe sebab jarak mental yangn terlampau besar sering kali menghambat pelaksanaan observasi. Disamping perlunya memperoleh data kuantitatif yang cukup besar jumlahnya, diperlukan sekali adanya insight yang tajam dan pengertian yang mendalam mengenai gejala yang diteliti sehingga diperlukan studi yang sangat intensif.
Suatu observasi yang cermat itu tidak hanya mencakup pen¬,caatan secara akurat mengenai situasi sosial saja, namun penting pd a peranan penetrasi mental guna menembus ' 'hakekat" gejala Penetrasi di sini diartikan: mampu mener bus fenomena¬i ia, bahkan mampu menembus di balik bendanya (to penetrate behind the things). Mampu mengerti apa yang tersirat di balik pikiran, di balik perasaan dan tingkah laku sjatu kelompok sosial; mampu "mengindrai" (to sense) atmosfu--sosial dengan kompleksitas interrelasinya. Ya, mampu menga(lakan penetrasi anpai pada "inner sanctum" dari gejalanya (inner; inti, bagian dalam; Sanctum: makdis, heiligdom, bagian yang dianggap suci). Dengan daya penetrasi dan wawasan orang baru nlampu memasti¬kan derajat dan sifat-sifat hakiki dari fenomena sosial yang tengah diamati.
Banyak peneliti sosial kawakan yang hares "belajar kembali dari semula" proses pengidentifikasian dirinya terhadap kelompok osial yang akan ditelitinya, karena masalahnya begitu asing dan 'are sama sekali baginya. Identifikasi-diri ini perlu untuk mem¬)erpendek jarak-sosial, dengan mana dia bisa melakukan studi rang intensif dari jarak dekat. Namun sebaliknya, bila peneliti erlampau intim-akrab dengan gejala sosial yang akan ditelitinya, riaka ada kemungkinannya bahwa dia tidak cermat lagi diferensiasi dari gejala-gejala tadi sebagai akibat dari proses daptasi; sehingga terjadi kebutaan sosial/psikis, karena ia tidak mampu mengadakan distansi, dan tidak sanggup la gi mengamati ejalanya secara obyektif. Yaitu sebagai akibat dari proses adap¬isi, sehingga terjadi kebutaan-sosial/psikis. Atau, dia akan mem¬erikan interpretasi yang sesuai dengan latar-belakang pengalaman ribadi, dengan latar belakang edukatif dan kultural sendiri.
gejala sosial dan subyek manusia sebagai manusia atau alas belaka bagi tujuan penelitian ilmiah, atau demi interest (di luar diri sendiri) diri pribadi.
Sehubungan dengan arti ini hendaknya dimaklumi oleh para observe bahwa :
1. Setiap anggota suatu kelompok social itu merupakan nilai-nilai social ( social Values ) bagi sesamanya.
2. Interrelasi para anggota itu sangat bervariasi, amat kompleks, dinamis, cepat sering berubah-ubah dan mempunyai arti sendiri dalam matrix sosialnya.
Didalam proses pelaksanaan observasi disamping pentingnya penguasaaan teknik pengumpulan data dan penggunaan pesawat-pesawat mekanis sebagai alat Bantu, sangat perlu diperhatikan nasehat-nasehat dibawah ini :
1o
2° Gejala sosial dan subyek sosial (manusia) itu masing-masing
mempunyai nilai, martabat, dan sendiri-sendiri dalam
konteks sosial.
3° Dalam pelaksanaan observasi, sikap yang sangat toleran,
sabar dan berpegang pada prinsip-prinsip ilmiah itu masih perlu didukung oleh rasa simpati yang tulen terhadap subyek lain.
4° Hendaknya kita jangan melanggar norma-norma dan tata¬aturan yang normal dari kelompok sosial yang tengah diteliti.
5° Demi suksesnya observasi dan penelitian di samping sikap ilmiah yang "dingin" (cold scientific attitude) itu diperlu¬kan pula sikap yang terbuka, simpatik dan apresiatif. Hanya 'dengan sikap sedemikian inilah kita bisa sampai dan bisa menembus inti pemasalahannya.
Jelaslah kini, bahwa dalam pelaksanaan teknik observasi ini rrlu diperhatikan dua faktor yang intern dan ekstern sifatnya. yang intern ialah: keseimbangan-keharmonisan sikap mental peneliti. Sedang faktor yang ekstern ialah: fragmen-fragmen, 'ebagai akibat dari segmentasi terhadap tingkah laku/gejala sosial, yaitu berupa faktor 'atau variabel-variabel yang "terpotong¬potong" (sebagai hasil observasi), dalam bentuknya yang sangat "mini" tadi harus dire konstruksikan kembali dalam satu kesatuan rerintegrasi yang lebih besar, agar kita benar-benar bisa memahami {kkekat dan arti suatu gejala sosial yang tidak bisa dikendalikan fan dikontrol sepenuhnya oleh peneliti.
Menurut Hartini :
Petunjuk-petunjuk yang dapat dipertimbangkan untuk melakukan observasi yang efektif adalah sebagai berikut :
1. Yang harus dilakukan untuk melakukan observasi, hal-hal yang harus dilakukan :
a. Rencanakan terlebih dahulu observasi yang akan dilakukan, meliputi :

- • Apa yang akan diobservasi
- • Dimana letak lokasi observasi
- • Kapan observasi akan dilakukan
- • Siapa yang akan melaksanakan observasi tersebut
- • Siapa yang akan diobservasi
- • Bagaimana melaksanakan observasi tersebut.
b. Mintalah ijin terlebih dahulu dari manajer dan atau pegawai yang terlibat
c. Bertindaklah dengan rendah hati (low profile)
d. Lengkapilah dengan catatan selama observasi
e. kaji ulang hasil observasi dengan individu-individu yang terlibat.

2. Yang tidak boleh dilakukan, yaitu :
a. Menggangu kerja individu yang diobservasi maupun individu lainnya.
b. Terlalu menekankan pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak penting.
c. Jangan membuat asumsi-asumsi.


D. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN TEKNIK OBSERVASI

Menurut Lerbin R. Aritonang R.
Observasi tidak bergantung pada laporan sendiri. Artinya, datanya tidak diberikan sendiri oleh subjek, seperti dalam wawancara. Dengan demikian, kelemahan metode lain yang menggunakan laporan sendiri dapat teratasi. Selain itu, melalui observasi dapat diamati secara langsung ekspresi dari subjek yang tidak mungkin diperoleh melalui metode angket. Hal itu dimungkinkan karena pengamat dapat secara langsung melihat ekspresi dari subjeknya. Metode observasi juga memungkinkan pencatatan secara sekaligus variable yang muncul pada waktu yang bersamaan.
Selain keunggulan di atas, observasi juga memiliki kelemahan.
1. Pertama, observasi sulit digunakan sebagai metode pengumpulan data bila variable yang diobservasi terjadi secara periodic dan dalam waktu yang lama
2. Kedua, jika subjek diamati secara langsung oleh pengamat, subjek mungkin akan berperilaku sedemikian rupa untuk menyenangkan pengamat sehingga data yang diperoleh tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya
3. Ketiga, tidak semua variable dapat diobservasi secara langsung, seperti kehidupan pribadi subjek
Selain kelemahan observasi yang dikemukakan diatas, ada tiga kesesatan yang mungkin terjadi dan perlu diperhatikan dalam melaksanakan observasi, khususnya bila observasi itu dilakukan oleh manusia (hadi,1992).
a. Pertama, halo effects. Kesulitan ini terjadi karena pengamat cenderung dipengaruhi oleh kesan pertamanya terhadap subjek/variable yang diobservasi. Kesan pertama itu dapat berpengaruh terus selama observasi berlangsung dan pada hasil observasi yang diperoleh.
b. Kedua, keinginan pengamat untuk memberikan penilaian yang cenderung baik jika ia ragu-ragu atas hasil observasinya. Ini dipandang sebagai sifat umum manusia.
c. Ketiga, carry-over effects. Kesesatan ini terjadi karena pengamat tidak dapat memisahkan satu kejadian dari kejadian lain yang diobservasinya sehingga jika satu kejadian timbul dalam keadaan yang baik, maka kejadian yang lain cenderung dicatat juga dalam keadaan yang baik.

Menurut Kartini Kartono :
• Keunggulan teknik observasi antara lain ialah:
1) Merupakan alat yang murah, mudah dan langsung/direct guna mengadakan penelitian terhadap macam-macam gejala. Tidak sangat bergantung pada laporan-diri/self-report dari observee.
2) Para observee yang sangat sibuk pada umumnya tidak berke, beratan jika is diamati. Biasanya is akan berkeberatan jika diminta untuk mengisi daftar pertanyaan-pertanyaan angket, atau berkeberatan untuk diinterview, disebabkan oleh ke¬sibukannya.
3) Banyak peristiwa psikis penting yang tidak mungkin bisa di¬peroleh dengan teknik kuestioner dan interview bisa diamati dengan observasi langsung.
4) Dimungkinkan mengadakan pencatatan secara serempak dengan menggunakan observer lebih dari seorang, yang te¬rampil dalam pemakaianalat-alat pencatatan dan alat-alat mekanis.
b) Kelemahan metode observasi antara lain ialah:
a. Banyak peristiwa psikis bertaraf tinggi ternyata tidak bisa di¬observasi, misalnya: rasa cinta, intuisi, simpati, harapan, ke¬adilan, kejujuran, masalah-masalah yang sifatnya rahasia dan sangat pribadi, dan lain-lain.
b. Sering diperlukan waktu yang lama, sehingga proses mehunggu jadi sangat membosankan. Yaitu menanti munculnya tingkah¬laku yang stereotipis atau perilaku penyimpangan-penyimpang¬an psikis tertentu. Sebabnya ialah: karena orang tidak bisa meramalkan dengan pasti kapan timbulnya tingkah laku ter¬sebut. Beberapa tingkah laku muncul sesekali dalam jangka waktu bertahun-tahun; beberapa gejala lain berlangsung dalam waktu yang relatif sangat pendek, timbul secara beruntun, atau berlangsung secara serempak di beberapa tempat.
c. Karena observee menyadari bahwa is tengah diamati, dengan sengaja is menim bulkan kesan-kesan yang menyenangkan atau justru menimbulkan kesan-kesan yang tidak menyenang¬kan. Sehingga situasi dan sifatnya jadi dibuat-buat atau arti¬fisial.
d. Observasi itu banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol. Lagi pula subyektivitas observer sering tidak bisa dihindari.
e. Kesalahan-kesalahan clisebabkan oleh pertimbangan yang Yl;; sangat subyektif dan penghakiman, berdasarkan standard kebudayaan sendiri serta pengalaman pribadi terhadap penam¬pakan-luar dari suatu gejala atau kelompok sosial.
f. Kesalahan karena observasi berlangsung secara tergesa-gesa, dan kurang menggunakan wawasan jernih.
Observasi terkontrol atau sisternatis itu ada kalanya cenderung menjadi atomistis dan artifisial sifatnya; namun demikian teknik ini biasanya menghasilkan data dan informasi yang akurat. Sedang observasi yang tidak terkontrol akan menyajikan kespontanan, kemurnian alarniah dari gejala-gejala sosial, serta data yang serba kbinplit. Namun laporan dan penganalisaan faktanya tidak •bisa eksak dan presis. Oleh sebab itu akan bijaksanalah sikap kita apabila bisa mengkombinasikan "elemen-elemen yang paling balk" dari kedua teknik tadi. Khususnya untuk teknik observasi tidak terkontrol hendaknya didukung oleh statistik dalam pengeterbatasan datanya.
Demi cermatnya hasil observasi, maka peneliti perlu meng¬tidarkan penggunaan emosi yang meluap-luap dan prasangka¬prasangka prasangka yang stereotipis, terutama bila orang tengah mengamati peristiwa-peristiwa yang menyolok dan dramatis. Umpama waktu mengamati peristiwa demonstrasi politik, pemogokan, ribelli / pemberontakan, bencana slam, dan lain-lain. Perlu pula diperhati¬kan sekali lagi, bahwa variabel-variabel dan fragmen-fragmen yang dilepaskan dari konteks kulturalnya itu (sebagai hasil analisa peng¬amatan), perlu di-rekonstruksikan kembali dalam totalitas dan integritas kesatuannya yang lebih besar. Selanjutnya berhasilnya observasi itu sangat bergantung pada faktor-faktor pribadi dari penelitinya sendiri, yaitu antara lain:
1. fisik cukup sehat;
2. memiliki kemampuan intelektual untuk mengadakan peng¬amatan yang tajam, penganalisaan yang. tepat, dan peng¬gunaan alat-alat pencatatan yang akurat;
3. sikap yang terbuka, apresiatif, dan memiliki keseimbangan sikap mental, untuk memahami hakekat permasalahannya.

Menurut Hartini:
Observasi mempunyai beberapa kebaikan dan juga kekurangan dibandingkan
dengan teknik pengumpulan data lainnya.
Kebaikan dari observasi adalah sebagai berikut :
a. Data yang dikumpulkan melalui observasi cenderung mempunyai keandalan yang tinggi. Kadang observasi dilakukan untuk mengecek validitas dari data yang telah diperoleh sebelumnya dari individu-individu.
b. Dapat melihat langsung apa yang sedang dikerjakan, pekerjaan-pekerjaan yang rumit kadang-kadang sulit untuk diterangkan.
c. Dapat menggambarkan lingkungan fisik dari kegiatan-kegiatan, misalnya tatam letak fisik peralatan, penerangan, gangguan suara dan lain-lain.
d. Dapat mengukur tingkat suatu pekerjaan, dalam hal waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu unit pekerjaaan tertentu.

Sedangkan kekurangannya adalah sebagai berikut :
a. Umumnya orang yang diamati merasa terganggu atau tidak nyaman, sehingga
b. akan melakukan pekerjaannya dengan tidak semestinya.
c. Pekerjaan yang sedang diamati mungkin tidak mewakili suatu tingkat kesulitan
d. pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan khusus yang tidak selalu dilakukan
e. atau volume-volume kegiatan tertentu.
f. Dapat mengganggu proses yang sedang diamati.
g. Orang yang diamati cenderung melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dari
h. biasanya dan sering menutup-nutupi kejelekan-kejelekannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih atas kunjungan anda.